Jumat, 03 Februari 2012

ANALISA KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN GULA AREN OLEH MASYARAKAT PENGRAJIN DI DESA BEKOSO KECAMATAN PASIR BELENGKONG KABUPATEN PASER


ANALISA KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN
GULA AREN OLEH MASYARAKAT PENGRAJIN
DI DESA BEKOSO KECAMATAN PASIR BELENGKONG
KABUPATEN PASER




SKRIPSI








Oleh
AULIA RAHMAN
NPM : 05.1.39.404.001




PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
SEKOLAH TINGGI ILMU PERTANIAN (STIPER)
MUHAMMADIYAH TANAH GROGOT
 KABUPATEN PASER
2008
ANALISA KELAYAKAN USAHA PENGOLAHAN
GULA AREN OLEH MASYARAKAT PENGRAJIN
DI DESA BEKOSO KECAMATAN PASIR BELENGKONG
KABUPATEN PASER


SKRIPSI


Skripsi merupakan sebagai persyaratan untuk meraih derajat
Sarjana Pertanian pada Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian
(Stiper) Muhammadiyah Tanah Grogot




Oleh
AULIA RAHMAN
NPM : 05.1.39.404.001







PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
SEKOLAH TINGGI ILMU PERTANIAN (STIPER)
MUHAMMADIYAH TANAH GROGOT
 KABUPATEN PASER
2008
Halama Pengesahan

Judul Penelitian     :  Analisa Kelayakan Usaha Pengolahan Gula Aren Oleh Masyarakat Pengrajin Di Desa Bekoso Kecamatan Pasir Belengkong Kabupaten Paser

Nama                     : AULIA RAHMAN

NPM                      : 05.1.39.404.001

Program studi         : Agribisnis



Disetujui
Komisi Pembimbing



Ir. Maryam Abu Bakar
Pembimbing II
 
Arahman, S.Tp, MP
Pembimbing I
 

                             





U S M A, SPt, MSi
Ketua Program studi
 
Ir. HARI SISWANTO, MSi
Ketua STIPER MUH
 
Diketahui Oleh,







RINGKASAN

AULIA RAHMAN (05.1.39.404.001). “ Analisa Kelayakan Usaha Pengolahan Gula Aren Oleh Masyarakat Pengrajin Di Desa Bekoso Kecamatan Pasir Belengkong Kabupaten Paser ” . Di bawah bimbingan Arahman sebagai pembimbing I dan Maryam Abubakar sebagai pembimbing II.
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui tekhnis pengolahan gula aren, untuk mengetahui pendapatan yang diperoleh pengrajin gula aren, untuk mengetahui secara ekonomi  kelayakan usaha pengolahan gula aren dan untuk mengetahui break even point usaha pengolahan gula aren selama (1 bulan) periode produksi di Desa Bekoso.
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Bekoso Kecamatan Pasir Belengkong Kabupaten Paser Propinsi Kalimantan Timur pada tanggal 23 Oktober sampai dengan 23 November 2008. Sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan metode Random Sampling, dimana data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Adapun responden yang diambil sebanyak 13 orang dari 63 pengrajin atau 20 % dari seluruh total sampel.
Secara teknis pengolahan gula aren di Desa Bekoso dilaksanakan secara sederhana, terlihat dari alat perlengkapan yang digunakan masih secara manual dengan rata-rata biaya tetap sebesar Rp 82.805,74 per usaha per bulan dan biaya variabel sebesar Rp 2.635.800,00 per usaha per bulan serta rata-rata penerimaan sebesar Rp 4.005.615,38 per usaha per bulan. Adapun nilai R/C Ratio yang diperoleh adalah sebesar 1,5 dan nilai BEP dilihat dari volume produksi rata-rata sebesar 70,66 bungkus per usaha per bulan dan nilai BEP dilihat dari hasil penerimaan adalah rata-rata sebesar Rp 243.546,29 sedangkan kalau dilihat dari BEP harga adalah rata-rata Rp 2.375,45.



BAB I
 PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Indonesia merupakan negara pertanian, artinya sektor pertanian masih memegang peranan penting dari keseluruhan perekonomian nasional. Hal ini dapat ditunjukkan dari banyaknya penduduk atau tenaga kerja yang hidup atau bekerja pada sektor pertanian atau produk pertanian yang berasal dari pertanian (Mubyarto, 1989).
Sementara itu, pertambahan jumlah penduduk dunia, kenaikan pendapatan dan perubahan preferensi konsumen telah menyebabkan permintaan terhadap produk dan jasa pertanian terus meningkat. Oleh karena itu sektor pertanian mempunyai peranan yang sangat strategis saat ini dan dimasa yang akan datang khususnya dari segi ekonomis.
Salah satu sub sektor pertanian yang cukup penting keberadaannya dalam pembangunan nasional adalah sub sektor perkebunan. Komoditi perkebunan yang banyak dilestarikan dan ditingkatkan oleh industri kecil adalah gula aren  yang bahan baku berasal dari tanaman aren. Ditinjau dari segi pembuatannya dan bentuk hasilnya maka usaha pengolahan gula aren termasuk dalam food-processor, yaitu mengolah hasil pertanian menjadi bahan konsumsi. Pada kenyataannya, gula merah yang berasal dari nira aren lebih unggul dari gula merah yang berasal dari nira kelapa. Gula aren memiliki cita rasa yang jauh lebih manis dan tajam. Oleh karena itu industri pangan yang menggunakan gula merah lebih senang gula aren. Pada umumnya harga gula aren dipasaran lebih mahal daripada gula kelapa (Sapari, 1995).
Pembangunan sektor industri di Kalimantan Timur tetap mengusahakan adanya keseimbangan dan keserasian antara industri besar, menengah dan industri kecil, baik yang mengolah bahan mentah menjadi barang setengah jadi dan barang jadi, guna kebutuhan sendiri maupun untuk keperluan bagi pemasaran umum dan ekspor.
Sehubungan dengan hal di atas maka di Kabupaten Paser telah banyak bermunculan industri-industri yang bergerak diberbagai bidang usaha, diantaranya adalah industri kecil rumah tangga yang bergerak dalam bidang usaha produksi pengolahan gula aren.
Usaha industri kecil pengolahan gula aren yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat masih menggunakan peralatan yang sederhana dan usaha ini berkembang hingga sekarang, disamping itu penggunaan gula aren sebagai bahan baku industri pangan sehari-hari banyak dipakai oleh berbagai lapisan masyarakat, baik di kota maupun di desa. Hal ini tentunya memberikan peluang untuk mengembangkan industri pengolahan gula aren secara lebih meluas.
Pengolahan gula aren yang dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Paser dengan bahan bakunya berasal dari pemanfaatan tanaman aren belum dibudidayakan secara intensif. Hal ini tentunya merupakan permasalahan, karena pada akhirnya akan menimbulkan kekurangan bahan baku adalah minimnya modal yang dimiliki, karena modal ini mempunyai peranan yang penting dalam menentukan maju mundurnya suatu usaha. Kebanyakan industri kecil tidak mampu berkembang atau bersaing karena sering terbentur masalah modal, sehingga sering mengalami defisit dalam produksi.
Permasalahan tersebut di atas tentunya akan berdampak kepada keberadaan pengrajin gula aren tersebut dilihat dari kuantitas mengalami penurunan. Padahal permintaan akan gula aren di daerah ini dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dan mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi. Ini tentunya usaha pengolahan gula aren kedepannya mempunyai prospek yang baik, tetapi harus ditopang dengan keberadaan bahan baku yang memadai guna menunjang kegiatan proses produksi gula aren tersebut. Untuk lebih jelasnya data produsen dan produksi gula aren dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel 1. Data Produsen dan Produksi Gula Aren di Kabupaten Paser pada tahun 2007.
No
Kecamatan
Jumlah Produsen (Unit)
Jumlah Produksi (Ton)
1
2
3
4
5
6
Batu Engau
Batu Kajang
Kuaro
Long Ikis
Muara Komam
Pasir Belengkong
3
1
16
36
2
54
28,458
9,075
81,982
27.9207,5
19.110
568.620
Jumlah
112
867.057,015
Sumber : Dinas Perindagkop, 2008

1.2.  Pembatasan Masalah
Penelitian ini mempunyai batasan-batasan permasalahan sebagai berikut :
1.      Usaha pengolahan gula aren yang dilakukan oleh masyarakat pengrajin di Desa Bekoso yang diteliti adalah usaha pengolahan skala industri rumah tangga.
2.      Usaha pengolahan gula aren yang dilakukan oleh masyarakat pengrajin di Desa Bekoso diselenggarakan beberapa orang dengan menyelenggarakan usaha sendiri dari penyediaan sarana produksi sampai memasarkan hasil produksi tersebut.
3.      Penelitian ini dilakukan untuk proses produksi yang berlangsung selama 1 (satu) bulan periode produksi tahun 2008.
1.3.  Perumusan Masalah
Setiap kegiatan usaha, baik yang dilakukan oleh orang perorangan maupun yang dilakukan oleh sekelompok orang atau badan usaha yang bersifat komersil maupun non komersil pasti menghadapi masalah baik dari dalam maupun dari luar usaha itu sendiri. Demikian juga yang berlaku pada analisa kelayakan pengolahan gula aren, masalah yang dihadapi pada dasarnya merupakan suatu kendala atau hambatan dalam mencapai tujuan analisa tersebut.
Masalah tersebut merupakan suatu pemecahan lebih lanjut, sebab apabila masalah tersebut dapat diatasi maka usaha untuk mencapai tujuan analisa tersebut akan terlaksana dengan baik. Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, dapat di rumuskan masalah dalam penelitian sebagai berikut :
  1. Berapa besar pendapatan pengolahan gula aren yang dilakukan oleh masyarakat pengrajin selama 1 (satu) bulan periode produksi  di Desa Bekoso Kecamatan Pasir Belengkong Kabupaten Paser ?
  2. Apakah usaha pengolahan gula aren yang dilakukan oleh masyarakat pengrajin di Desa Bekoso Kecamatan Pasir Belengkong Kabupaten Paser secara ekonomi layak untuk diusahakan ?
1.4.  Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.4.1.   Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :
  1. Untuk mengetahui  tekhnis pengolahan gula aren di Desa Bekoso.
  2. Untuk mengetahui pendapatan yang diperoleh masyarakat pengrajin dalam pengolahan gula aren di Desa Bekoso Kecamatan Pasir Belengkong Kabupaten Paser selama 1 (satu) bulan periode produksi.
  3. Untuk mengetahui apakah usaha pengolahan gula aren yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Bekoso Kecamatan Pasir Belengkong Kabupaten Paser secara ekonomi layak untuk diusahakan.
  4. Untuk mengetahui titik impas (break even point) usaha pengolahan gula aren di Desa Bekoso selama 1 (satu) bulan periode produksi.
1.4.2.      Manfaat dari penelitian ini adalah :
  1. Sebagai bahan informasi dan pertimbangan bagi pengrajin usaha  pengolahan gula aren guna meningkatkan produksi.
  2. Sebagai bahan informasi bagi pemerintah/dinas terkait dalam menentukan kebijakan untuk meningkatkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).
  3. Sebagai bahan masukan untuk penelitian berikutnya.
1.4. Hipotesis
Hipotesis diartikan pula sebagai jawaban sementara terhadap masalah yang ditanyakan (dalam penelitian) (Sigit, 2001). Sementara itu hipotesis menurut Suryabrata (2000), adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian, sedangkan menurut Kartono (1996), hipotesa adalah strelling, patokan, pendirian, dalil yang dianggap benar ; juga berarti “ onderstelling”, persangkaan, dugaan yang dianggap benar untuk sementara waktu dan perlu dibuktikan kebenarannya.
Menyimak dari uraian yang terdapat pada latar belakang tersebut diatas, maka dengan ini dugaan sementara yang dapat dikemukakan dalam penelitian ini adalah ” Usaha pengolahan gula aren yang dilakukan oleh masyarakat pengrajin di Desa Bekoso Kecamatan Pasir Belengkong Kabupaten Paser secara ekonomi layak untuk diusahakan ”








BAB II
 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tanaman Aren
2.1.1. Asal  Usul Tanaman Aren
Aren (Arenga pinata) termasuk suku Arecaceae (pinang-pinangan),  merupakan tumbuhan biji tertutup (Angiospermae) yaitu biji buahnya terbungkus oleh daging buah. Tanaman atau pohon aren hampir mirip dengan pohon kelapa (Cocus nuticera). Namun pohon kelapa dan pohon aren mempunyai perbedaan pada batangnya. Pohon kelapa memiliki batang pohon yang bersih, yaitu pelapah daun dan kapasnya mudah di ambil sedangkan pohon aren memiliki batang yang sangat kotor karena batangnya terbalut ijuk yang warnanya hitam dan sangat kuat sehingga pelapah daun yang sudah tua pun sangat sulit untuk diambil atau dilepas dari batangnya. Karena kondisi tersebut maka batang pohon aren ditumbuhi banyak tanaman jenis paku-pakuan (Sunanto, 1993).
Dari tangkai bunganya dapat disadap cairan sebagai bahan baku pembuatan gula aren. Gula aren berbau harum dan lebih disukai dari pada jenis gula jawa lainnya. Jika dalam obat disebut gula merah atau gula jawa, maka yang dimaksud adalah gula aren. Dari buah aren dihasilkan tepung dengan cara seperti membuat sagu. Tepung ini sangat mudah dicerna dan sangat baik buat penderita gangguan perut, jika dikeringkan dengan baik, dapat disimpan bertahun-tahun. Selanjutnya pohon ini juga menghasilkan ijuk sebagai bahan baku sapu, tali, dsb. Sangat sulit membusuk dan jika ditanam dalam tanah dapat bertahan sangat lama. Daunnya dapat juga digunakan sebagai atap rumah. Berguna untuk ditaruh di bagian bawah pot agar lubang pot tidak tertutup, Tanaman suflir dan begonia akan tumbuh dengan baik (J. Soegiri dan Nawangsari, 2006).
Adapun bagian-bagian dari pohon aren yang bisa dimanfaatkan oleh manusia, yaitu :
1.      Akar
Akar yang sudah dikeringkan dapat dijadikan kayu bakar. Selain itu, akar juga digunakan untuk bahan anyaman dan untuk cambuk.
2.      Batang
Batang yang sudah dikeringkan juga dapat dijadikan sebagai kayu bakar. Tak jarang pula batang ini dibelah, kemudian untuk dijadikan talang (saluran air), kayunya untuk tongkat jalan dan untuk usuk genteng. Batang aren berisi cadangan makanan yang berupa zat pati dan amylum, sehingga dari batang ini (bagian terasnya) bisa disebut ”sagu”.
3.      Daun Aren
Daun aren dapat digunakan untuk membungkus gula aren yang siap dipasarkan. Daun ini juga sering dijadikan sebagai kayu bakar. Tulang daunnya dapat dimanfaatkan untuk sapu dan keranjang anyaman. Kadang - kadang daun aren yang masih muda pun sudah dimanfaatkan, yaitu untuk mengganti kertas rokok.
4.      Bunga/tangkai Bunga
Tangkai/tongkol bunga aren dapat kita deres untuk mendapatkan cairan yang mengandung gula atau biasa disebut nira. Nira dapat dimanfaatkan atau diolah menjadi gula aren (gula jawa). Akan tetapi, jika nira ini dikhamirkan (dicampur ragi) akan menghasilkan sagu cair, arak atau cuka.
5.      Buah Aren
Dari buah aren kita bisa mengambil bijinya, yang kita kenal dengan nama kolang kaling, kolang kaling dapat dimasak untuk campuran es/kolak, angsle, bubur ataupun manisan.
6.      Serabut Pelapah
Serabut pelapah, duk atau ijuk ini terdapat di dekat tangkai, melekat pada batang dan berwarna hitam. Duk atau ijuk ini banyak sekali manfaatnya, yaitu untuk tali atau tampar, sapu, sikat, keset, atap atau genteng, dan lain-lain (Sapari, 1995).
2.1.2. Jenis-jenis Tanaman Aren
Sampai saat ini dikenal 3 jenis tanaman aren, yaitu :
  1. Aren (Arenga pinnata) dari suku Aracaceae.
  2. Aren Gelora (Arenga undulatifolia) dari suku Aracaceae. Aren jenis ini mempunyai batang agak pendek dan ramping. Pangkal batang bertunas sehingga tanaman ini tampak berumpun. Daunnya tersusun teratur dalam satu bidang datar, sisi daunnya bercuping banyak dan bergelombang. Aren gelora ini tumbuh liar di hutan-hutan Kalimantan, Sulawesi, dan Filipina pada daerah ketinggian 0-900 meter di atas permukaan laut. Dalam keadaan darurat, penduduk pedalaman Kalimantan sering memanfaatkan tepung aren gelora untuk dimakan. Sedangkan daunnya untuk atap rumah. Tanaman ini sebenarnya berpotensi sebagai tanaman hias.
  3. Aren Sagu (Arenga microcarpa) dari suku Aracaceae. Aren sagu adalah suatu jenis tumbuhan aren yang berbatang tinggi, sangat ramping dan berumpun banyak. Di Sangir Talaud, tepung aren ini dimanfaatkan sebagai makanan utama. Selain itu tepung ini juga digunakan sebagai bahan pembuat kue. Aren sagu ini tumbuh liar di hutan-hutan Maluku, Irian Jaya, dan Papua Nugini pada ketinggian 0-700 meter di atas permukaan laut. (Sunanto, 1993).
2.1.3.      Syarat Tumbuh Tanaman Aren
Tanaman aren sesungghunya tidak membutuhksn kondisi tanah yang khusus, sehingga dapat tumbuh pada tanah–tanah yang liat (berlempung) berkapur dan berpasir. Tetapi tanaman ini tidak tahan pada tanah yang kadar asamnya terlalu tinggi (PH tanah terlalu tinggi).
Tanaman aren di Indonesia dapat tumbuh baik dan mampu berproduksi pada daerah–daerah yang tanah subur pada ketinggian  500–800 m diatas permukaan laut, pada daerah–daerah yang mempunyai ketingian kurang dari 500 m dan lebih dari 800 m, tanaman aren tetap dapat tumbuh namun produksi buahnya kurang memuaskan.
Banyaknya curah hujan juga sangat berpengaruh pada tumbuhnya tanaman ini. Tanaman aren menghendaki curah hujan yang merata sepanjang tahun, yaitu minimal sebanyak 1200 mm pertahun atau jika diperhitungkan dengan perumusan Schmidt dan Fergusson, iklim yang paling cocok untuk tanaman ini adalah iklim sedang sampai iklim agak basah.
Faktor lingkungan tumbuhnya juga berpengaruh daerah–daerah perbukitan yang lembab dimana sekelilingnya banyak tumbuh berbagai tanaman keras, tanaman aren dapat tumbuh dengan subur. Dengan demikian tanaman ini tidak membutuhkan sinar matahari yang terik sepanjang hari (Sunanto,1993).
2.1.4.      Jenis Kelamin Tanaman Aren
Tanaman aren tergolong tanaman berumah satu, artinya pada satu pohon atau satu tanaman aren terdapat bunga jantan dan bunga betina. Pohon ini akan berhenti pertumbuhannya jika telah mengeluarkan daun terpendek. Hal ini merupakan tanda bahwa masa berbunga telah dekat. Pada saat ini pula batang aren mempunyai kandungan tepung atau pati yang maksimum (disebut masa bunting).
Pada umunya tanaman ini mulai membentuk bunga pada umur 12-16 tahun. Semakin tinggi tempatnya akan semakin lambat membentuk bunga. Bunga yang muncul pertama kali adalah bunga betina. Tongkol dan untaian bunga aren terbuka, artinya sejak semula tidak tertutup oleh seludung (mancung). Lain halnya dengan bunga kelapa yang semula terbungkus oleh seludung.
Bunga betina tersusun pada untaian - untaian bunga berbentuk butiran-butiran kecil. Bunga betina yang muncul pertama kali posisinya pada ruas batang diketiak pelepah daun dibawah titik tumbuh. Bunga betina ini belum dapat diserbuki tepung sari dan bunga jatuh karena bunga jantan belum tumbuh.
Sekitar 3 bulan kemudian bunga jantan mulai tumbuh di bawah bunga betina tepung sari bunga jantan ini sudah terlambat menyerbuk putik bunga betina, sebab putik-putik sudah lewat masa, sehingga pohon belum dapat memproduksi buah aren. Bunga jantan itu dapat duduk berpasangan pada untaian dimana untaian-untaian yang berjumlah sekitar 25 itu pangkalnya melekat pada sebuah tandan seperti pada bunga jantan itu tidak tertutup oleh seludung (mancung).
Jika dengan bentuk butiran (bulat) berwarna hijau dan duduk sendiri pada untaian, maka bunga jantan berbentuk bulat panjang seperti peluru dengan panjang 1,2–1,5 cm berwarna ungu. Bunga jantan setelah dewasa kulitnya pecah dan kelihatan banyak benang sari berwarna kuning. Setiap banang sari ditumbuhi banyak tepung sari berwarna kuning.
Sekitar 6 bulan kemudian, bunga betina tumbuh lagi, disusul tumbuhnya bunga jantan posisi tumbuhnya bunga ini adalah pada ruas batang dibawah posisi bunga yang tumbuh pertama kali tadi. Tandan bunga betina tumbuhnya selalu diatas tandan bunga jantan.
Umumnya pada fase ini telah dapat berlangsung proses penyerbukan, sehingga terbentuk buah. Dengan demikian pada pohon aren tumbuhnya bunga dari tahun ke tahun semakin kebawah atau semakin mendekati permukaan tanah tempat tumbuhnya. Jadi makin tua pohon aren, semakin rendah munculnya tandan bunga.
Nira aren yang digunakan untuk pembuatan gula merah atau tuak dan cuka merupakan hasil penyadapan tandan bunga jantan. Untuk dapat memperoleh nira dalam jumlah banyak, bunga betina harus dihilangkan (Sunanto, 1993).
2.1.5. Gula Aren Sebagai Komoditi
Yang dimaksud dengan komoditas adalah barang dagangan. Dengan demikian, maka gula aren dapat dijadikan barang dagangan yang menghasilkan devisa bagi negara maupun tambahan pendapatan bagi pengrajin itu sendiri.
Gula aren yang kini masih banyak diolah secara tradisional, sudah mampu menembus pasaran dunia, terutama ke Saudi Arabia. Dengan demikian, gula aren dapat dijadikan andalan komoditas non migas, terlebih lagi pada saat pemerintah amat memperhatikan masalah ekspor non migas ini.
Negara yang membutuhkan gula aren sebenarnya bukan hanya Arab Saudi. Negara-negara seperti Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Japan dan Kanada. Sangat berkepentingan terhadap pemasokan gula aren terutama dari Indonesia.
Ini jelas menunjukkan bahwa dari sektor ekonomi, gula aren memiliki kedudukan yang sangat penting. Gula aren tidak hanya dapat dilihat dari masalah ketenagakerjaan, melainkan juga dapat ditinjau dari kacamata ekonomi.
Menurut W. J. S. Poerwadarminta, di dalam Sapari (1995) ekonomi diartikan sebagai pengetahuan dan penyelidikan mengenai asas-asas penghasilan, pembagian dan pemakaian barang - barang serta kekayaan, seperti keuangan.
Jika pengertian ekonomi itu dikembangkan maka akan kita peroleh pengertian bahwa ekonomi adalah untuk usaha memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, kemudian berkembang menjadi usaha manusia dalam mencapai kemakmuran, yakni suatu keadaan dapat dipenuhi segala macam keperluan hidup secara layak.
Dalam kehidupan sehari-hari ekonomi menempati makna penting dalam mendukung keberadaan manusia dimuka bumi ini. Karena itu daya dukung ekonomi, seperti gula aren, harus ditingkatkan kualitasnya sehingga arti ekonomi dalam kehidupan ini makin menguntungkan manusia. Kita harapkan ekonomi makin memiliki arti bagi kesejahteraan manusia.
Karena gula aren mempunyai nilai ekonomi dan tingkat ekonomi yang dimaksud tidak terbatas pada makna mikro, maka kita tidak dapat bersikap menerima apa adanya dari kenyataan yang ada sekarang ini apalagi pada saat ekspor non migas menjadi primadona untuk terus meningkatkan kualitas gula aren merupakan suatu langkah yang tepat.
Walaupun sementara ini kita belum banyak mengandalkan keberadaan gula aren, mengingat masih banyaknya yang mengerjakan secara tradisional, kita tidak perlu berkecil hati. Departemen Perindustrian selalu memantau kegiatan masyarakat terutama yang tergabung dalam kelompok industri kecil.
Gula aren dijadikan sebagai salah satu alternatif komoditas ekspor non migas, tentunya akan memberikan rangsangan kepada pengrajin untuk terus meningkatkan kualitas produksinya. Ini sejalan dengan tuntunan negara pengimpor gula aren yang hanya menginginkan gula aren bermutu tinggi (Sapari, 1995).
2.1.6. Jenis Dan Macam Gula Aren
Gula aren mempunyai bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan keinginan pembuatnya. Jenis dan macam gula aren tersebut tidak memiliki perbedaan jika ditinjau dari manfaat penggunanya, sebab bahan bakunya sama, yaitu nira aren. Oleh karena itu, perbedaan jenis dan macam gula aren tersebut hanya pada bentuknya saja.
Adapun jenis dan macam gula aren yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1.      Gula Kerekan
            Gula kerekan ini dicetak menggunakan kerekan yang bentuknya bulat, berukuran panjang sekitar 5 cm dengan lingkaran (baca garis tengah lingkaran). Sepanjang 3 cm kerekan tersebut terbuat dari bambu.
2.      Gula Pasir
            Gula aren yang dikristalkan kecil-kecil seperti Pasir bedanya dengan gula Pasir (tebu) adalah pada warnanya. Gula Pasir (aren) berwarna merah, sedangkan gula Paser (tebu) berwarna putih (bening).
3.      Gula Semut
            Gula semut ini mirip dengan gula pasir, yaitu bentuknya kecil-kecil mengkristal seperti gula pasir. Hanya saja lebih besar sedikit dari pada gula pasir (Sapari, 1995).
2.2. Teknik Pengolahan Gula Aren
2.2.1. Bahan Yang Diperlukan
Dalam pembuatan gula aren dikenal adanya dua jenis bahan, yaitu bahan baku (utama) dan bahan pendukung. Bahan baku merupakan bahan utama industri gula aren karena tanpa bahan tersebut tidak akan dapat diproduksi gula aren. Sedangkan bahan pendukung adalah bahan bantu atau penunjang bahan baku (utama).
2.2.1.1. Bahan Baku
Bahan baku yang digunakan untuk membuat gula aren adalah nira aren. Nira ini diperoleh dari hasil penderesan pada tangkai bunga aren yang belum mekar.
2.2.1.2. Bahan Pendukung
Bahan pendukung yang digunakan untuk membuat gula aren adalah sebagai berikut:
§  Akar Rabet
§  Kapur
§  Metabisulfide (pengawet) (Sapari, 1995).
2.2.2. Penyiapan Peralatan
Dalam pembuatan gula aren diperlukan beberapa peralatan, seperti pisau, bumbung, wajan, tungku, dan lain-lain. Masing-masing alat tersebut mempunyai fungsi tersendiri. Adapun uraian alat-alat tersebut secara terperinci adalah sebagai berikut:
2.2.2.1.      Alat - alat untuk penyediaan bahan baku
1.      Bumbung
Bumbung ini terbuat dari bambu yang digunakan untuk menampung air nira dari tangkai yang sudah disadap tadi. Bumbung ini dipasang pada tangkai yang baru diiris dan mengeluarkan nira. Cara memasangnya dengan mengaitkan bumbung pada pangkal tangkai dan bagian yang terbuka ditutup menggunakan daun aren agar kotoran/binatang-binatang kecil tidak masuk kedalam bumbung yang akan mengurangi kualitas nira.
2.      Pisau
Pisau terbuat dari baja dan diusahakan agar sangat tajam yang berguna untuk menyadap tangkai bunga aren dengan memotong bekas potongan (mengiris) dengan pisau yang tipis dengan tujuan nira yang baru akan keluar.
3.      Tangga
Tangga yang digunakan terbuat dari rangkaian tiga batang bambu yang sangat panjang dan diikat dengan menggunakan rotan. Alat ini mempermudah dalam pemanjatan pohon aren.
4.      Palu
Palu ini terbuat dari kayu yang digunakan untuk memukul-mukul pangkal tangkai aren yang sebelum dideres sehingga mempermudah proses penderesannya. Selain itu tangkai juga digoyang-goyangkan agar air nira yang ada didalam pohon bisa tersedot ke tangkai yang nanti akan dideres/diiris.
2.2.2.2.      Alat-alat untuk proses produksi
1.      Tungku
Tungku digunakan untuk memanaskan nira yang sudah ada diatas wajan sampai batas waktu yang telah ditentukan.
2.      Wajan
Wajan yang baik digunakan harus terbuat dari baja agar gula aren tidak melekat pada wajan dan panasnya secara perlahan-lahan dan tahan lama, yang berguna untuk menampung nira yang siap dipanaskan diatas tungku.
3.      Sutil
Sutil terbuat dari kayu yang dibentuk menyerupai sendok, berguna untuk membersihkan gula yang ada dipinggir wajan.
4.      Pengaduk
Pengaduk ini terbuat dari kayu dengan panjang sekitar 40-50 cm. Gunanya untuk mengaduk adonan yang sudah kental dengan cara mengaduk bagian pinggirnya saja untuk mengetahui apakah adonan tersebut benar-benar sudah masak atau belum.
5.      Cetakan
Cetakan terbuat dari kayu dan berbentuk gelas dengan bagian dalam berbentuk kerucut.
6.      Anyaman Bambu
Anyaman bambu dibuat berbentuk lingkaran dengan diameter yang sama dengan diameter wajan, berguna untuk mencegah meluapnya nira yang dimasak, dipasang diatas wajan.

7.      Ember
Ember terbuat dari bahan plastik yang berguna untuk merendam cetakan agar gula yang dicetak tidak melekat pada cetakan.
8.      Tataan
Tataan ini terbuat dari papan dengan panjang sekitar 50 cm dan lebar sekitar 30 cm berguna sebagai alas/dasar untuk meletakkan cetakan agar permukaan cetakan bisa rata.
9.      Penyaring
Penyaring yang digunakan berupa wadah dari bahan plastik yang mempunyai anyaman besar yang dikaitkan pada kayu, berguna untuk menyaring kotoran yang terdapat dalam nira. Misalnya, semut dan lebah pada saat menuangkan nira dari bumbung ke wajan.
10.  Alat Ciduk
Alat ini terbuat dari potongan tempurung kelapa berguna untuk menciduk gula dan mengetes kekentalannya, serta sebagai alat penciduk adonan yang akan dimasukkan ke dalam cetakan.
11. Alat-alat lain yang digunakan yaitu wadah yang terbuat dari anyaman bambu berbentuk seperti keranjang yang berguna untuk menyimpan gula yang telah dicetak (Sapari, 1995).
2.3. Proses Produksi Gula Aren
Proses produksi adalah proses transformasi atau perubahan bentuk, waktu dan tempat atas faktor-faktor produksi (alam, tenaga kerja, modal dan teknologi) (Reksohadiprodjo dan Gitusudarmo, 1993).
Langkah pertama adalah penyeleksian bahan. Bahan yang tidak memenuhi syarat akan menghasilkan gula aren yang mutunya buruk. Bahkan mungkin tidak akan menjadi gula, melainkan bahan manisan bila dicampur buah kelapa dan sebagainya.
Oleh karena itu tahap ini merupakan tahap yang paling diperhatikan oleh pengrajin gula aren, karena jika tidak, hasil yang dicapai akan sangat mengecewakan. Untuk melaksanakan proses produksi gula aren pertama-tama ambil bumbung lalu beri kapur seujung sendok teh dan sedikit akar rabet (sebesar kelereng), yang telah dipepes/ditumpuk secara perlahan-lahan (jangan sampai gepeng). Campuran kapur + akar rabet ini disebut laru. Pemberian laru ini dimaksudkan untuk mencegah nira menjadi asam, sebab nira yang asam akan berpengaruh pula pada kualitas gula yang akan dihasilkan. Nira yang asam dapat menyebabkan sukarnya pemasakan nira menjadi gula. Akan tetapi, jika pemberian laru ini terlalu banyak dapat pula berakibat kurang baik yakni warna dan rasa gula yang dihasilkan menjadi kurang menarik. Hal ini berarti pula mengakibatkan rendahnya kualitas gula.
Setelah persiapan itu selesai, bumbung dipasang pada tangkai bunga aren yang telah diiris dengan pisau hingga mengeluarkan air nira. Proses ini bisa disebut proses penderesan. Dalam proses penderesan ini, nira harus diambil sebanyak dua kali dalam seharinya yakni pagi dan sore hari. Bumbung yang dipasang pagi hari harus diambil sore hari, sebaliknya bumbung yang dipasang sore hari harus segera diambil pagi harinya. Waktu penderesan ini harus diperhatikan, sebab kalau terlalu lama nira yang dihasilkan akan terlalu asam, meskipun telah diberi campuran laru. Sebagaimana telah disebutkan tadi, nira yang asam akan sukar dimasak menjadi gula atau mungkin nira tersebut tidak akan menghasilkan gula melainkan hanya akan menjadi cuka atau glali. Hasil nira kemudian diukur dengan kertas lakmus dengan pH 60-70 (siap direbus).
Langkah kedua adalah penyiapan peralatan. Alat-alat yang sudah ditetapkan hendaknya dipersiapkan secara matang. Ini bertujuan agar pelaksanaan pembuatan gula aren berjalan lancar, sering pengrajin melupakan hal ini sehingga proses pembuatan gula aren menjadi tersendat - sendat atau mengalami hambatan.
Tahap ini tidak kalah pentingnya dibandingkan dengan tahap penyeleksian bahan. Peralatan dan bahan yang akan digunakan hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.      Bumbung untuk menampung nira tidak boleh digunakan dua kali. Jadi satu kali digunakan harus dibersihkan dengan air panas, sebab sisa-sisa nira yang menempel pada bumbung akan mempengaruhi keasaman nira yang lain, kalau sampai bumbung digunakan dua kali tanpa dicuci terlebih dahulu maka hasilnya akan mengecewakan/rusak.
2.      Wajan harus dibersihkan lebih dahulu dan diletakkan di atas tungku dengan persiapan kayu bakar/minyak tanah dan bahan bakar lainnya.
3.      Kerekan yang sudah dipakai dan kotor hendaknya dicuci terlebih dahulu. Setelah itu direndam dalam air agar ketika gula itu dimasukkan ke dalam kerekan tidak melekat.
4.      Begitu pula alat-alat yang lain yang akan dipergunakan hendaknya dibersihkan lebih dahulu, terkecuali tungku dan kayu bakar. Pengertian dibersihkan dahulu tentu saja bagi alat-alat yang perlu dibersihkan (Sapari, 1995).
Langkah ketiga adalah pembuatan gula merah. Nira mempunyai sifat mudah asam karena adanya proses fermentasi oleh bakteri Soceharomyses sp. Oleh karena itu nira harus segera diolah setelah diambil dari pohon, paling lambat 90 menit setelah dikeluarkan dari bumbung. Nira dituangkan sambil disaring dengan kasa kawat yang dibuat dari bahan tembaga, kemudian ditaruh diatas tungku perapian untuk segera dipanasi (direbus) (Sunanto, 1993).





Untuk lebih jelasnya proses produksi gula aren dapat dilihat pada bagan dibawah ini.
Nira
 
Pengambilan Dari Pohon                                                                     Kapur + Rabet
Direbus
 
2 menit
Kayu Bakar + Panas ± 200˚C                                                                    Metabisulfide
.                                                    3-4 jam
Diangkat Dari Api
 





                                                          
                                        30 menit       
                                                        
Dicetak
 
Kerekan/Air                                                                                                     Tataan
                                                           
                                                  10 menit
Dibungkus
 
                                                                                                            Daun Aren/Tali








Siap Dipasarkan
 
 



Penyelesaian Hasil Akhir                                                                         Plastik/Label
Gambar 1. Skema proses pembuatan gula aren (Sapari, 1995).
Langkah keempat adalah penyeleksian hasil akhir. Ada dua macam tahap dalam penyeleksian akhir ini yaitu:
1.      Sebelum dibungkus
Untuk mengetahui gula yang berwarna kuning kecoklat-coklatan, kuning pucat dan hitam. Gula aren yang baik dan siap di pasarkan adalah yang berwarna kuning kecoklat-coklatan.
2.      Sesudah dibungkus
Untuk mengetahui kelengkapan gula, kebersihan dan kerapian bungkus. Kalau perlu pada tahap ini dilengkapi dengan plastik, label dan tali yang baik. Label digunakan untuk mengetahui identitas dari pengusaha/pengrajin (Sapari, 1995).
2.4. Biaya dan Pendapatan
2.4.1. Biaya Usahatani
Menurut Daniel (2004) dalam usahatani dikenal dua macam biaya, yaitu biaya tunai atau biaya yang dibayarkan dan biaya tidak tunai atau biaya yang tidak dibayarkan. Sifat-sifat biaya usahatani dapat digolongkan sebagai berikut:
1.      Biaya Tetap (Fixed Cost)
Biaya tetap adalah biaya yang penggunaannya tidak habis satu masa produksi. Tergolong dalam kelompok biaya ini antara lain: pajak tanah, pajak air, penyusutan alat dan bangunan pertanian, pemeliharaan kerbau, pemeliharaan pompa air, traktor dan lain sebagainya. Tenaga kerja keluarga dapat dikelompokkan pada biaya tetap bila tidak ada biaya imbangan dalam penggunaannya atau tidak adanya penawaran untuk itu terutama untuk usahatani maupun diluar usahatani (Hernanto, 1995). Sedangkan menurut Rangkuti (2006) biaya tetap adalah biaya yang relatif konstan dan sedikit sekali dipengaruhi oleh banyaknya keluaran yang dihasilkan, biaya ini meliputi biaya investasi mesin, depresiasi, bunga, pajak dan asuransi.
2.      Biaya Variabel (Variable Cost)
Menurut Rangkuti (2006) biaya variabel adalah semua biaya yang sifatnya berubah-ubah, tergantung pada jumlah unit yang dihasilkan, misalnya biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead. Sedangkan menurut Hernanto (1995) biaya variabel adalah biaya yang penggunaannya habis dalam satu masa produksi yang tergolong dalam kelompok ini adalah biaya untuk pupuk, bibit, obat pembasmi hama dan penyakit, buruh atau tenaga kerja upahan, biaya panen, biaya pengolahan tanah baik yang berupa kontrak maupun upah harian dan sewa tanah.
3.      Biaya usahatani dari biaya tetap dapat berupa air dan pajak tanah. Sedangkan untuk biaya variabel antara lain berupa biaya untuk pemakaian bibit, pupuk, obat-obatan dan tenaga kerja luar keluarga.
4.      Biaya tidak tunai (diperhitungkan) meliputi biaya tetap, biaya untuk tenaga keluarga. Sedangkan yang temasuk biaya variabel antara lain biaya panen dan pengolahan tanah dari keluarga dan jumlah pupuk kandang yang dipakai (Hernanto, 1995).
2.4.2. Pendapatan Usahatani
Menurut Soekartawi (1995), bahwa pendapatan usahatani dapat digolongkan atas dua bagian, yaitu :
1.      Pendapatan kotor (Gross Farm Income) merupakan nilai produksi total usahatani dalam jangka waktu tertentu, baik yang dijual maupun yang tidak dijual. Jangka waktu pembukuan umumnya setahun dan mencakup semua produk yang dijual, dikonsumsi rumah tangga petani, digunakan dalam usahatani untuk bibit/makanan ternak, digunakan untuk pembayaran dan disimpan/digudangkan pada akhir tahun.
2.      Pendapatan bersih (Net Farm Income) merupakan selisih antara pendapatan kotor dengan pengeluaran total usahatani.
2.5. Analisa Ekonomi
2.5.1. Pendapatan (Income)
Pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan dan semua biaya (Soekartawi, 1995). Sedangkan menurut Hernanto (1995), faktor yang mempengaruhi pendapatan usahatani adalah:
1.      Luas usaha, meliputi:
§  Luas tanaman
§  Luas pertanaman
§  Luas pertanaman rata-rata
2.      Tingkat produksi
§ Produktivitas per hektar
§ Indek pertanaman
3.      Pilihan dan kombinasi cabang usaha
4.      Intensitas pengusahaan pertanaman
5.      Efisiensi tenaga kerja.
Pendapatan dalam arti umum yaitu hasil produksi yang diperoleh dalam bentuk materi dan dapat kembali digunakan untuk memenuhi akan sarana dan prasarana produksi. Analisis pendapatan digunakan untuk mengetahui besar keuntungan perusahaan dalam periode tertentu. Pendapatan kotor yang diperoleh oleh petani gula aren adalah hasil dari penjualan produksi gula aren tersebut yaitu mengalikan antara jumlah gula aren yang terjual dengan harga jual gula aren tersebut. Pendapatan bersih adalah hasil dari penjualan produk dikurangi dengan total biaya yang digunakan untuk menghasilkan gula aren.
2.5.2. Penerimaan (Revenue)
Penerimaan usahatani adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Dalam menghitung penerimaan usahatani, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:
1.      Hati-hati dalam menghitung produksi pertanian, karena tidak semua produksi pertanian itu dapat dipanen secara serentak.
2.      Hati-hati dalam menghitung penerimaan karena:
a.       Produksi mungkin dijual beberapa kali, sehingga diperlukan data frekuensi penjualan.
b.      Produksi mungkin dijual beberapa kali pada harga jual yang berbeda-beda.
3.      Bila penelitian usahatani menggunakan responden petani, maka diperlukan teknik wawancara yang baik untuk membantu petani mengingat kembali produksi dan hasil penjualan yang diperolehnya selama setahun terakhir (Soekartawi, 1995).
2.5.3. Kelayakan Usaha
Untuk mengetahui apakah usaha yang dijalankan tersebut layak atau tidak maka dapat dilakukan dengan menggunakan perhitungan R/C ratio. R/C ratio adalah singkatan dari Return Cost Ratio, atau dikenal sebagai perbandingan (nisbah) antara penerimaan dan biaya. Secara teoritis dengan rasio R/C = 1 artinya tidak untung dan tidak rugi, jika nilai R/C > 1 usahatani yang dilakukan adalah layak sedangkan jika R/C < 1 maka usahatani yang dilakukan tidak layak (Soekartawi, 1995).
2.5.4. Titik Impas atau Break Even Poin (BEP)
Impas (Break Even) adalah keadaan suatu usaha yang tidak memperoleh laba dan tidak menderita rugi. Dengan kata lain, suatu usaha dikatakan impas jika jumlah pendapatan sama dengan jumlah biaya, atau apabila laba kontribusi hanya dapat digunakan untuk menutup biaya tetap saja. Analisis impas adalah suatu cara untuk mengetahui volume penjualan minimum agar suatu usaha tidak menderita rugi, tetapi juga belum memperoleh laba (dengan kata lain labanya sama dengan nol) (Mulyadi, 1993).
Analisa Break Even Point (BEP) adalah suatu analisa ekonomi untuk mengetahui terjadinya titik impas atau kembalinya modal dari usaha. Dengan melihat analisa tersebut petani atau pengusaha yang menjalankan usahanya akan dapat menentukan seberapa besar modal yang dikeluarkan dan seberapa jauh keuntungan yang diperolehnya, sehingga pada akhirnya pengrajin dapat lebih mengembangkan usaha dimasa mendatang. Volume Break Even ( Q ) adalah jumlah unit yang harus dijual untuk menutup biaya tetap dan biaya variabel dalam pengembangan dan produksi produk baru (Swasta, 2005). Analisa break even digunakan untuk menentukan berapa jumlah produk (dalam rupiah atau unit keluaran) yang harus dihasilkan agar perusahaan minimal tidak menderita rugi. Analisa ini merupakan peralatan yang berguna untuk menjelaskan hubungan antara biaya, penghasilan dan volume penjualan atau produksi (Handoko, 1999).
Sedangkan menurut Firdaus (2008), Analisa Titik Impas (Break Even Poin Analysit) adalah suatu teknik analisis untuk mempelajari hubungan antara biaya (biaya tetap dan biaya variabel), keuntungan dan volume kegiatan. Dikarenakan analisis ini mempelajari hubungan antara biaya, keuntungan dan volume kegiatan maka analisis tersebut sering disebut Cost Profit Volume Analysis (CPV Analysis).


2.5.5.   Pengeluaran
Menurut Soekartawi, dkk (1986) pengeluaran dibedakan menjadi dua macam :
  1. Pengeluaran tetap ialah pengeluaran usahatani yang tidak bergantung kepada besarnya produksi.
  2. Pengeluaran tidak tetap ialah pengeluaran yang digunakan untuk tanaman atau ternak tertentu dengan jumlahnya berubah kira–kira sebanding dengan besarnya produksi tanaman atau ternak tersebut.












BAB III
 METODE PENELITIAN

3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan selama satu bulan periode produksi, yaitu mulai tanggal 23 Oktober 2008 sampai dengan 23 November 2008. Adapun lokasi penelitian ini bertempat di Desa Bekoso Kecamatan Pasir Belengkong Kabupaten Paser.
3.2. Jenis dan Sumber Data
Data diambil dengan menggunakan dua sumber, yaitu :
3.2.1.   Data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari pengrajin gula aren melalui wawancara dan quisioner.
3.2.2.   Data sekunder, yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung, melalui kantor kelurahan, BPS, Dinas Perkebunan dan dapat melalui literatur (kepustakaan) yang ada hubungannya dengan penelitian ini (Umar, 2007).
3.3. Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang dipergunakan dalam pengambilan data adalah :
3.3.1.   Metode interview, merupakan salah satu pengumpulan data dengan mengadakan wawancara langsung pada obyek yang akan diteliti.
3.3.2.   Metode observasi, merupakan salah satu pengumpulan data dengan mengadakan pengamatan langsung pada obyek yang diteliti.
3.3.3.   Metode quisioner dan pencatatan, metode ini merupakan pengumpulan data dengan membuat daftar pertanyaan yang ditujukan kepada pengrajin gula aren (Wirartha, 2006).
3.4. Metode Penentuan Populasi dan Sampel
Pengambilan sampel dilakukan secara Random Sampling yaitu pemilihan secara acak melalui undian (Soekartawi, 1995). Sedangkan menurut Sugiyono (2008) yaitu pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi itu. Adapun  responden dipilih sebanyak 13 orang pengrajin gula aren. Jumlah pengrajin gula aren di lokasi penelitian adalah sebanyak 63 orang, sehingga sampel yang diambil adalah 20 % dari jumlah pengrajin gula aren yaitu sebanyak 13 orang.
3.5. Metode Analisa Data
3.5.1.   Analisa Ekonomi
Alat analisa yang digunakan untuk melihat gambaran mengenai komponen biaya yang dikeluarkan dan keuntungan yang akan diperoleh. Adapun cara analisa ekonomi seperti :
a.   Analisa Pendapatan
Untuk mengetahui berapa besar pendapatan yang diperoleh pengrajin gula aren dari usahatani yang dijalankan, secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut :

I  =  TR  -  TC

Dimana :
I           =  Pendapatan (Income)
TR       =  Total return atau total penerimaan (Rp)
TC       =  Total cost atau total biaya (Rp) (Soekartawi, 1995).
b.   Analisa Kelayakan Usaha
      Biaya total (Total cost) merupakan penjumlahan dari biaya tetap dan biaya variabel, secara matematis dirumuskan sebagai berikut (Rosyidi, 2001).

TC = TFC + TVC

Dimana :
TC    = Total Cost / Total Biaya (Rp)
TFC  = Total Fexid Cost / Total Biaya Tetap (Rp)
TVC = Total Variable Cost / Total Biaya Variabel (Rp)
Total penerimaan (Total Return) adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual, secara matematis dirumuskan sebagai berikut (Rosyidi, 2001).

TR = P . Q

Dimana :
TR    = Total Return / Total Penerimaan (Rp)
P       = Price / Harga (Rp/Kg)
Q      = Quantity / Produksi (Kg)
Untuk mengetahui apakah usaha yang dijalankan tersebut layak atau tidak maka, dapat digunakan perhitungan dengan membandingkan total penerimaan dengan total biaya secara matematis dapat ditulis sebagai berikut :

    TR
    TC
 

                           R/C ratio  =             
                               
Dimana :
R/C ratio      = Return cost ratio
TR                = Total return atau total penerimaan (Rp)
TC                = Total cost atau total biaya (Rp)
Dengan ketentuan jika nilai R/C > 1 maka usahatani yang dilakukan adalah layak, sebaliknya jika nilai R/C  < 1 maka usahatani yang dijalankan tidak layak (Soekartawi, 1995).
c.   Titik Impas atau Break Even Point (BEP)
Analisa titik impas atau Break Even Point (BEP) adalah titik dimana total biaya produksi sama dengan pendapatan. Titik impas memberi petunjuk bahwa tingkat produksi telah menghasilkan pendapatan yang sama besarnya dengan biaya produksi yang dikeluarkan.
Kemudian untuk menentukan besarnya Break Even Point (BEP) berdasarkan volume produksi, secara matematis dapat ditulis dengan rumus (Suratiyah,2006).
FC
P - AVC
 

                     BEP (Produksi) =        
                             
Dimana :
BEP        = Break Even Point
FC          = Fixed cost atau biaya tetap (Rp)
P             = Price atau harga (Rp/Kg)
AVC      = Average variable cost atau rata-rata biaya variabel (Rp)
Sedangkan penggunaan analisis Break Even Point (BEP) dalam penerimaan dan harga (Rp/Kg), dilakukan dengan rumus.
FC
VC
     1 –
S
 

                     BEP (Penerimaan)  =


Dimana :
BEP        = Break Even Point
FC          = Fixed cost atau biaya tetap (Rp)
S            = Hasil penjualan (Rp) atau  ∑ Produksi   X   Harga
VC         = Biaya Variabel (Rp)
TC
Y
 
BEP Harga (Rp/Kg)  =

Dimana :
   BEP     = Break Even Point
   TC       = Total Cost atau total biaya
   Y         = Total Produksi
                        3.5.2. Analisa Deskriptif Kualitatif
Analisa ini bertujuan untuk memberikan gambaran secara umum tentang hal yang berkaitan dengan obyek penelitian. Hal-hal tersebut antara lain pekerjaan masyarakat, usaha gula aren, pengolahan gula aren, dan sebagainya. Maka perlu dibuat daftar pertanyaan yang berhubungan dengan penelitian (Wirartha, 2006).
3.5.2.1.      Aspek Bahan Baku
Perencanaan penyediaan bahan baku berupa nira aren yang diperoleh dari hasil penyadapan pada tangkai bunga aren yang belum mekar dari pohon aren. Nira aren yang akan digunakan harus diseleksi terlebih dahulu agar dihasilkan gula aren yang bermutu tinggi dan sesuai dengan harapan konsumen/pemakai.
Bahan yang tidak memenuhi syarat akan menghasilkan gula aren yang tidak akan menjadi gula, melainkan hanya akan menjadi bahan pemanis yang dicampur dengan buah-buahan lainnya, misalnya kelapa. Oleh karena itu tahap ini merupakan tahap yang paling diperhatikan oleh pengrajin gula aren.
3.5.2.2.      Aspek Pengolahan/Produksi
Dalam pembuatan gula aren dikenal adanya dua jenis bahan, yaitu bahan baku (utama) dan bahan pendukung. Bahan baku merupakan bahan utama industri gula aren karena tanpa bahan tersebut tidak akan dapat diproduksi gula aren. Bahan baku yang digunakan untuk membuat gula aren adalah nira aren. Nira ini diperoleh dari hasil penderasan pada tangkai bunga aren yang belum mekar. Sedangkan bahan pendukung adalah bahan bantu atau penunjang bahan baku.
3.5.2.3.      Aspek Sosial
Keberadaan gula aren dalam lingkungan masyarakat Desa Bekoso sangat membantu dikarenakan produk yang dihasilkan memiliki banyak manfaat, terutama bagi mereka yang memiliki industri pangan yang menggunakan gula merah sebagai bahan dasarnya, seperti makanan, minuman dan sebagainya.
Pada kenyataannya gula merah yang berasal dari nira aren lebih unggul dari gula merah yang berasal dari nira kelapa. Gula aren memiliki cita rasa yang jauh lebih manis dan tajam. Oleh karena itu harga gula aren dipasaran lebih mahal dari pada gula kelapa.
3.5.2.4.      Aspek Pemasaran
Gula aren yang diolah oleh pengrajin gula aren di Desa bekoso selama ini dipasarkan di pasar Pasir Belengkong, pasar Senaken Tanah Grogot dan hampir diseluruh pasar yang ada di Kabupaten Paser serta pemasarannya juga sampai ke Ibu kota Propinsi Kalimantan Timur yang dijual oleh para pedagang pengumpul.    
3.6. Definisi Operasional
1.       Pengrajin gula aren adalah orang yang melaksanakan atau menjalankan kegiatan dalam pengolahan gula aren.
2.       Pengolahan gula aren adalah kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan gula aren mulai dari pengambilan nira di pohon, proses produksi hingga hasil berupa gula aren.
3.       Biaya  adalah sejumlah nilai yang dikeluarkan untuk kegiatan usaha pengolahan gula aren dengan satuan rupiah.
4.       Biaya tetap adalah biaya dikeluarkan untuk kegiatan usaha yang tidak mempengaruhi besar kecilnya volume produksi gula aren, seperti biaya yang dikeluarkan untuk pembelian lesung cetakan, wajan, parang,dll.
5.       Biaya variabel adalah biaya yang berubah-ubah sehingga besar kecilnya biaya yang dikeluarkan mempengaruhi oleh volume produksi gula aren, seperi biaya sarana produksi, biaya tenaga kerja yang diperhitungkan selama satu hari dengan satuan rupiah.
6.       Biaya variabel rata-rata (AVC) adalah total biaya variabel dibagi total produksi dengan satuan Rp/bungkus.
7.       Break even point adalah suatu analisis yang digunakan untuk mengetahui nilai titik impas atau kembalinya modal usaha yang dilaksanakan, baik dilihat dari hasil penjualan maupun volume produksi.
8.       Produksi adalah hasil fisik pada usaha pengolahan gula aren selama periode produksi (1 bulan) dengan satuan bungkus, sedangkan harga adalah nilai yang berlaku pada tingkat produsen selama mengadakan penelitian dan dianggap tetap dengan satuan rupiah.
9.       Produsen gula aren adalah orang yang melakukan atau melaksanakan kegiatan pengolahan gula aren.
10.   Produksi total (Y) adalah jumlah produksi per usaha dengan satuan bungkus.
11.   Harga produksi (P) adalah harga produksi per unit dengan satuan Rp/bungkus.
12.   Penerimaan (Return) adalah hasil perkalian antara produksi dengan harga rata-rata pada tingkat pelaku industri atau nilai total yang diperoleh pelaku usaha dalam pengolahan gula aren dengan satuan rupiah.
13.   Pendapatan (Revenue) adalah selisih antara penerimaan dengan total biaya per usaha dengan satuan rupiah.
14.   Pemalu adalah alat yang digunakan untuk memukul-mukul pangkal tangkai aren sebelum dideres sehingga mempermudah dalam proses penderesan.
15.   TKDK adalah tenaga kerja dalam keluarga.
16.   HKO adalah hari kerja orang. 
17.   Total biaya atau total cost (TC) adalah penjumlahan antara biaya tetap dengan biaya variabel.
18.   Total biaya tetap atau total fixed cost (TFC) adalah penjumlahan dari semua biaya tetap.
19.   Total biaya variabel atau total variable cost (TVC) adalah penjumlahan dari semua biaya variabel.
20.   Break even point (BEP) adalah titik impas dimana usaha pengolahan gula aren tidak memperoleh keuntungan dan tidak mengalami kerugian.
21.   Total penerimaan atau total return (TR) adalah perkalian antara harga dengan jumlah produksi.
22.   Biaya penyusutan adalah


BAB IV
GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1. Letak Dan Luas Daerah
Desa Bekoso adalah desa dengan status swakarya dan merupakan salah satu dari 12 desa yang terdapat di Kecamatan Pasir Belengkong, berada pada jarak kurang lebih 19 km dari Ibu Kota Kecamatan, 15 km dari Ibu Kota Kabupaten dan 275 km dari Ibu Kota Propinsi Kalimantan Timur. Aksesibilitas dari dan ke Desa Bekoso ini dapat dikatakan cukup lancar karena dapat dilalui dengan jalan darat meliputi jalan beraspal yang dapat dilewati kendaraan roda dua maupun roda empat. Selain itu karena desa Bekoso terletak dipinggiran sungai, maka angkutan air merupakan sarana transportasi alternatif yang cukup banyak dapat digunakan.
Luas Desa Bekoso kurang lebih 16.000 ha dan secara administratif pemerintahan desa ini mempunyai batas wilayah sebagai berikut :
  1. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Lolo
  2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Petangis
  3. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Damid
  4. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Lempesu.
Desa Bekoso Kecamatan Pasir Belengkong mempunyai elevasi (ketinggian) rata–rata 55 meter di atas permukaan laut dengan tofografi bergelombang atau berbukit dan mempunyai kemiringan tanah 15-45 %.


4.2.  Penggunaan Tanah
Luas wilayah Desa Bekoso adalah kurang lebih 16.000 ha dengan tataguna tanah sebagian besar berupa hutan (68,21 %) dan penggunaan pertanian berupa perkebunan (21,88 %), untuk persawahan (4,38 %), untuk pemukiman (4,22 %) dan tambak/kolam (0,11 %). Secara terperinci penggunaan tanah Desa Bekoso Kecamatan Pasir Belengkong dapat dilihat pada Tabel 2 berikut ini.
Tabel 2. Keadaan Luas Wilayah Desa Bekoso Berdasarkan Jenis Penggunaan Tanah Tahun 2007

No

Tataguna Tanah
Luas
( Ha )
( % )
1
2
3
4
5
6
7
8
Pemukiman
Persawahan / Ladang
Perkebunan
Tanah Kas Desa
Fasilitas Umum
Tambak / Kolam
Hutan / Jalur Hijau
Lain – lain Penggunaan
675
700
3.500
6
178
17
10.914
10
4,22
4,38
21,88
0,04
1,11
0,11
68,21
0,06
Jumlah
16.000
100,00
Sumber : Monografi Desa Bekoso, Tahun 2008
4.3.  Keadaan Penduduk
4.3.1.                  Jumlah dan Umur Penduduk
Menurut data monografi Desa Bekoso Kecamatan Pasir Belengkong tahun 2007 tercatat jumlah penduduk seluruhnya 2.848 jiwa, yang terdiri dari 1.445 jiwa laki–laki dan 1.403 jiwa perempuan dengan jumlah kepala keluarga 734. Keadaan penduduk menurut umur di Desa Bekoso Kecamatan Pasir Belengkong dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Jumlah Penduduk Menurut Umur  di Desa Bekoso Kecamatan Pasir Belengkong Kabupaten Paser Tahun 2007


No
Tingkat Umur
( Tahun )
Jumlah
( Jiwa )
Persentase
( % )
1
2
3
4
5
6
0 – 14
15 – 19
20 – 26
27 – 40
41 – 54
55  - Keatas
795
825
349
553
179
147
27,91
28,97
12,25
19,42
6,29
5,16
Jumlah
2.848
100
Sumber : Monografi Desa Bekoso, Tahun 2008
Penduduk yang tergolong usia produktif berusia 15-54 tahun, belum produktif 0-14 tahun, kurang produktif usia 55 tahun keatas. Berdasarkan kriteria tersebut, maka sebagian besar dari penduduk Desa Bekoso tergolong dalam usia produktif, sedangkan selainnya tergolong usia belum produktif dan kurang produktif.
4.3.2.                  Mata Pencaharian
Berdasarkan mata pencaharian sebagian besar penduduk Desa Bekoso Kecamatan Pasir Belengkong adalah sebagai Petani, buruh, tukang, Pedagang, PNS/ABRI. Untuk lebih jelasnya mengenai mata pencaharian ini dapat dilihat pada Tabel 4 berikut.



Tabel 4. Mata Pencaharian Penduduk di Desa Bekoso Kecamatan Pasir Belengkong Kabupaten Paser Tahun 2007


No

Mata Pencaharian
Jumlah
( Jiwa )
Persentase
( % )
1
2
3
4
5
Petani
Pedagang
PNS / ABRI
Buruh
Tukang
1.081
163
132
257
175
59,79
9,02
7,30
14,21
9,68
Jumlah
1.808
100
Sumber : Monografi Desa Bekoso, Tahun 2008      
4.3.3.                  Pendidikan
Jumlah penduduk berdasarkan tingkat pendidikan di Desa Bekoso Kecamatan Pasir Belengkong sangat bervariasi. Secara rinci keadaan pendidikan penduduk Desa Bekoso Kecamatan Pasir Belengkong seperti terlihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Jumlah Penduduk Desa Bekoso Kecamatan Pasir Belengkong Kabupaten Paser Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2007


No

Tingkat Pendidikan
Jumlah
( Jiwa )
Persentase
( % )
1
2
3
4
5
6
Tidak tamat SD / Sederajat
Tamat SD / Sederajat
Tamat SLTP / Sederajat
Tamat SMA / Sederajat
Tamat D III
Tamat Sarjana
1.046
966
486
325
9
16
36,73
33,92
17,06
11,41
0,32
0,56
Jumlah
2.848
100
Sumber : Monografi Desa Bekoso, Tahun 2008
Pada Tabel 5, diketahui bahwa sebagian besar penduduk Desa Bekoso Kecamatan Paser belengkong tidak tamat SD/Sederajat sebanyak 1.046 jiwa (36,73 %) dan yang terkecil adalah tamat D III sebanyak 9 jiwa (0,32 %).
4.3.4.                  Agama dan Adat Istiadat
Penduduk Desa Bekoso Kecamatan Pasir Belengkong sebanyak 2.755 jiwa (96,73 %) beragama Islam dan selebihnya beragama Kristen yakni sebanyak 93 jiwa (3,27 %)
Karena agama Islam dianut oleh sebagian besar penduduk Desa Bekoso, maka kehidupan sosial kemasyarakatan dan kehidupan sehari–hari penduduk Desa Bekoso dipengaruhi oleh ajaran agama Islam, sehingga adat istiadat yang tumbuh dan berkembang di masyarakat selalu berciri khas keislaman.
Bermacam–macam kegiatan agama yang mereka lakukan berdasarkan atas kesadaran dan kewajiban sebagai penganut agama Islam, diantaranya mengadakan yasinan, baik pria maupun wanita, perayaan hari–hari besar Islam, ceramah agama dan lain–lain.
Sifat kegotongroyongan dan rasa kekeluargaan terjalin sangat erat, terutama untuk kepentingan bersama, misalnya pembersihan sarana peribadatan, perbaikan jalan, jembatan dan lain–lain. Selain itu rasa kekeluargaan yang nampak dari tindakan mereka seperti membantu jiran yang menyelenggarakan perkawinan, melahirkan, khitanan, kematian dan sebagainya.
4.4.  Transportasi dan Komunikasi
Sarana perhubungan di Desa Bekoso sudah cukup baik, jalan yang ada dapat dilalui dengan kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat yang terdiri dari jalan propinsi, jalan kabupaten dan jalan desa. Untuk lebih jelasnya prasarana transportasi di Desa Bekoso dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Prasarana Transportasi Yang Ada Di Desa Bekoso Kecamatan Pasir Belengkong Kabupaten Paser Tahun 2007

No
Prasarana Transportasi
Panjang
1
2
3
4
5
6
Jalan Dusun
Jalan Desa
Jalan Kecamatan
Jalan Kabupaten
Jalan Propinsi
Jembatan
5 km
7 km
19 km
15 km
275 km
4 km
 Sumber : Monografi Desa Bekoso, Tahun 2008
Untuk sarana transportasi dan komunikasi yang ada di Desa Bekoso seperti dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7. Sarana Transportasi dan Komunikasi Yang Ada Di Desa Bekoso Kecamatan Pasir Belengkong Kabupaten Paser Tahun 2007

No
Sarana Transportasi dan Komunikasi
Jumlah
1
2
3
4
5
6
Mobil
Sepeda Motor
Sepeda
Televisi
Tape / Radio
Hand Phone ( HP )
32 buah
385 buah
201 buah
595 buah
275 buah
175 buah
 Sumber : Monografi Desa Bekoso, Tahun 2008
4.5.   Keadaan Umum Pertanian
4.5.1. Tanaman Pangan
Lahan pertanian di Desa Bekoso adalah lahan tadah hujan dengan tanaman yang banyak diusahakan adalah padi varietas lokal dan juga mengusahakan tanaman palawija seperti jagung (Zea mays L), kacang kedelai (Glycinemax), kacang tanah (Arachis hypogaea L), terong (Solanum melongema) dan lain – lain.
4.5.2. Perikanan
Desa Bekoso bukanlah daerah penghasil ikan utama sehingga mata pencaharian dalam bidang perikanan hanya sebagai usaha sampingan saja atau usaha musiman saja. Di dalam memenuhi kebutuhan keluarga akan protein hewani sebagian besar masyarakat desa membeli ikan, akan tetapi ada juga mereka yang menangkap ikan dan hasil dari budidaya dalam skala kecil, apabila dalam penangkapan ikan hasilnya melebihi untuk konsumsi maka kelebihannya baru dijual pada tetangga sekitarnya atau di jual ke pasar desa. Perairan yang digunakan sebagai daerah penangkapan meliputi sungai, daerah persawahan dan bedengan, sedangkan untuk usaha budidaya masih dalam skala kecil saja.
4.5.3. Peternakan
Masyarakat Desa Bekoso ada juga yang memelihara ternak terutama ayam buras yang masih diusahakan secara sederhana, selain itu mereka juga memelihara itik, kambing, sapi dan kerbau.
4.5.4. Perkebunan
Tanaman perkebunan yang banyak diusahakan oleh masyarakat Desa Bekoso adalah kelapa dan kopi, selain itu juga mereka menanam kelapa sawit, karet, aren dan lain–lain yang mana dilaksanakan hanya sebagai sampingan saja.



BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Identitas Pengrajin Gula Aren
5.1.1. Umur
Umur sebenarnya memegang peranan dalam kegiatan suatu usaha yang akan dikelola. Hal ini dikarenakan semakin tua umur pengrajin maka secara fisik semakin lemah dalam bekerja. Akan tetapi disisi lain semakin tua umur pengrajin, maka relatif semakin banyak pula pengalaman yang didapatnya dalam penyelenggaraan suatu usaha. Pada situasi yang demikian pengrajin dihadapkan pada berbagai keadaan. Untuk menutupi kelemahan fisiknya pengrajin memanfaatkan tenaga kerja dalam keluarga maupun tenaga kerja upahan.
Karakteristik pengrajin gula aren menunjukkan bahwa umur mereka berkisar antara 24 tahun sampai dengan 65 tahun dengan rata–rata berumur 48 tahun. Kelompok terbesar berumur antar 40–55 tahun yaitu sebanyak 7 orang (53,84 %). Untuk lebih jelasnya jumlah pengrajin gula aren berdasarkan kelompok umur dapat dilihat pada Tabel 8 dibawah ini.
Tabel 8. Komposisi Umur Pengrajin Gula Aren Di Desa Bekoso


No
Komposisi
(Tahun)
Jumlah
(Orang)
(%)
1
2
3
24 – 39
40 – 55
56 – 65
3
7
3
23,08
53,84
23,08
Jumlah
13
100
Sumber : Hasil Pengolahan data Primer Tahun 2008
Tabel 8 diketahui bahwa jumlah pengrajin yang termasuk ke dalam usia produktif ( 24-55 tahun ) adalah 76,92%. Berdasarkan pengamatan dilapangan dari pengrajin yang terpilih memang usaha pengolahan gula aren banyak dikerjakan oleh petani yang termasuk ke dalam usia produktif, hal ini dikarenakan usaha pengolahan gula aren memerlukan tenaga kerja yang cukup menunjang misalnya saja dalam proses pengambilan nira, pemukulan tandan buah, pencetakan dan sebagainya.
5.1.2. Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap suatu usaha yang akan dikelola, apalagi disiplin ilmu yang dimiliki sesuai dengan usaha yang dilakukan. Selain itu juga tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap proses adopsi inovasi.
Pengrajin dengan pendidikan formal lebih tinggi cenderung lebih cepat dalam memikirkan/memecahkan maupun menerima sesuatu yang berkaitan dengan bidang usaha yang dikelola, apalagi kalau ditunjang dengan pengalaman yang pendidikan non formal yang ada dalam diri pengrajin dan keluarganya.
Tingkat pendidikan pengrajin pengolahan gula aren masih tergolong rendah, hal ini di ketahui dari jumlah pengrajin yang berpendidikan SD/Sederajat lebih banyak dibandingkan dengan yang berpendidikan SLTP/Sederajat. Untuk lebih jelasnya mengenai tingkat pendidikan pengrajin responden dapat dilihat pada Tabel 9 berikut.


Tabel 9. Tingkat Pendidikan Pengrajin Gula aren di Desa Bekoso


No

Tingkat Pendidikan
Jumlah
(Orang)
(%)
1
2
Tamat SD / Sederajat
Tamat SLTP / Sederajat
12
1
92,31
7,69
Jumlah
13
100
Sumber : Hasil Pengolahan data Primer Tahun 2008
Tabel 9 di atas terlihat komposisi tingkat pendidikan pengrajin gula aren yang terbesar adalah tamat SD/Sederajat sebesar 92,31%, dan sisanya sebesar 7,69% tamat SLTP/Sederajat. Dengan angka tabel tersebut dapat diberikan gambaran tingkat pendidikan formal pengrajin yang pernah dienyam masih tergolong rendah. Hal ini tentunya merupakan kendala bagi pengembangan usahanya. Dengan demikian guna meningkatkan keterampilannya dalam mengolah gula aren diperlukan bimbingan dan penyuluhan dari instansi yang terkait guna meningkatkan produksinya baik segi kualitas maupun kuantitas.
5.1.3. Jumlah Tanggungan
Jumlah tanggungan pengrajin gula aren meliputi isteri, anak dan keluarga yang ikut dan menjadi tanggungan keluarga. Jumlah tanggungan keluarga dewasa disatu sisi menguntungkan, yaitu sebagai sumber tenaga kerja dalam keluarga, sebab secara implisit tenaga kerja dalam keluarga juga merupakan pendapatan pengrajin apabila dibayarkan bagi pengrajin itu sendiri dan keluarganya. Tetapi disisi lain menambah pengeluaran atau biaya bagi keluarga pengrajin itu sendiri.
Besarnya jumlah tanggungan keluarga pengrajin pada usaha pengolahan gula aren berkisar antara 2-8 orang. Sedangkan jumlah tanggungan keluarga yang terbesar yaitu 4-6 orang sebesar 53,85%, sedangkan jumlah tanggungan keluarga yang terkecil yaitu berkisar 7-8 orang sebesar 15,38%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 10 berikut.
Tabel 10. Tanggungan Pengrajin Gula Aren di Desa Bekoso


No

Tanggungan ( Orang )
Jumlah
(Orang)
(%)
1
2
3
1 – 3
4 – 6
7 – 8
4
7
2
30,77
53,85
15,38
Jumlah
13
100
Sumber : Hasil Pengolahan data Primer Tahun 2008
Tabel 10 di atas memperlihatkan bahwa jumlah tanggungan yang dimiliki pengrajin gula aren relatif cukup, hal ini tentunya sangat menguntungkan bagi pengrajin sendiri guna memanfaatkan tenaga kerja tersebut guna membantu proses pengolahan gula aren dan secara implisit dapat menekan biaya produksi (biaya tenaga kerja) pada usaha pengolahan gula aren.
5.1.4. Jumlah Tanaman (Pohon) Aren Yang Dimiliki
Faktor lahan merupakan unsur yang sangat penting dalam kegiatan usaha pengolahan gula aren, salah satunya tanaman aren. Dari hasil pengamatan jumlah tanaman (pohon) aren di daerah penelitian yang dimiliki pengrajin responden berjumlah rata–rata 49 pohon aren. Dari jumlah ini tanaman aren berusia 10-18 tahun. Pada usia kurang lebih 5 tahun tanaman aren sudah dapat dipungut hasilnya berupa ijuk dan pelepah. Sedangkan pada usia kurang lebih 8 tahun sudah dapat dipetik buah nira dan sudah bisa disadap air niranya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 11 berikut.
Tabel 11. Jumlah Tanaman (Pohon) Yang Dimiliki Pengrajin Gula Aren di Desa Bekoso


No

Tanaman Yang Dimiliki
Jumlah
(Pohon)
(%)
1
2
3
25 – 40
41 - 50
51 – 150
6
6
1
46,15
46,15
7,70
Jumlah
13
100
Sumber : Hasil Pengolahan data Primer Tahun 2008
5.1.5. Jumlah Tanaman (Pohon) Aren Yang Berproduksi
Banyaknya pohon aren yang berproduksi sangat menentukan besar kecilnya perolehan air nira yang disadap oleh pengrajin gula aren. Dari hasil pengamatan jumlah tanaman (pohon) aren yang berproduksi di daerah penelitian yang dimiliki pengrajin responden berjumlah rata–rata 8 pohon aren yang disadap tiap harinya. Dari jumlah ini tanaman aren yang berproduksi terbesar berkisar antara 5-7 pohon sebesar 61,54% sedangkan jumlah tanaman aren yang berproduksi terkecil berkisar 8-10 pohon sebesar 38,46%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 12 berikut.
Tabel 12. Jumlah Tanaman (Pohon) Aren Yang Berproduksi di Desa Bekoso


No

Tanaman Yang Berproduksi
Jumlah
(Pohon)
(%)
1
2
5 – 7
8 10
8
5
61,54
38,46
Jumlah
13
100
Sumber : Hasil Pengolahan data Primer Tahun 2008

5.1.6. Pengalaman Dalam Pengolahan Gula Aren
Pengalaman dalam pengolahan gula aren juga sangat mempengaruhi kualitas dan kuantitas hasil olahannya, biasanya orang yang sudah lama mengusahakan suatu kegiatan (pengolahan gula aren) dia akan memiliki banyak pengetahuan tentang proses pengolahan gula aren. Dari hasil pengamatan di daerah penelitian pengalaman yang dimiliki pengrajin responden berjumlah rata–rata 16 tahun. Dari lamanya pengalaman dalam pengolahan gula aren yang  lama berkisar antara 3-21 tahun sebesar 38,46% sedangkan yang memiliki pengalaman terkecil berkisar 22-30 tahun sebesar 23,08%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 13 berikut.
Tabel 13. Pengalaman Pengrajin Dalam Pengolahan Gula Aren di Desa Bekoso


No

Pengalaman (Tahun)
Jumlah
(Orang)
(%)
1
2
3
3 – 10
11 – 21
22 – 30
5
5
3
38,46
38,46
23,08
Jumlah
13
100
Sumber : Hasil Pengolahan data Primer Tahun 2008
5.1.7. Umur Tanaman Yang Disadap
Dari hasil pengamatan di daerah penelitian umur tanaman yang disadap pengrajin responden berjumlah rata–rata 14 tahun. Umur tanaman yang terbesar berkisar antara 10-13 tahun yaitu sebesar 46,15% sedangkan umur tanaman yang  terkecil berumur 18 tahun sebesar 15,39%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 14 berikut.

Tabel 14. Umur Tanaman Aren Yang Disadap Pengrajin Gula Aren di Desa Bekoso


No

Umur Tanaman (Tahun)
Jumlah
(Pohon)
(%)
1
2
3
10 – 13
14 – 17
18
6
5
2
46,15
38,46
15,39
Jumlah
13
100
Sumber : Hasil Pengolahan data Primer Tahun 2008
5.2. Analisa Biaya Pengolahan Gula Aren Di Desa Bekoso
Dalam proses produksi untuk menghasilkan output tidak terlepas dari biaya. Biaya itu sendiri dapat diartikan sebagai nilai dari semua korbanan ekonomis yang tidak dapat dihindari atau diperlukan, yang dapat diperkirakan dan yang dapat diukur untuk menghasilkan suatu produksi. Begitu juga pada usaha pengolahan gula aren memerlukan korbanan (biaya).
Biaya yang diperhitungkan dalam penelitian diklasifikasikan menjadi 2 (dua) macam, yaitu biaya tetap dan biaya variabel yang diperhitungkan selama periode produksi (1 bulan). Berikut ini akan diuraikan dari komponen biaya tersebut.
5.2.1. Biaya Tetap
Biaya tetap (fixed cost) pada usaha pengolahan gula aren di Desa Bekoso meliputi biaya alat dan perlengkapan. Aktifitas pengolahan gula aren dimulai dari persiapan pohon sadap sampai dengan gula aren tersebut siap untuk dipasarkan. Oleh karena pengolahan gula aren merupakan suatu proses pengolahan tentunya diperlukan alat dan perlengkapan demi kelancaran usaha tersebut.
Alat perlengkapan yang umum digunakan oleh pengrajin di dalam pengolahan gula aren diantaranya, bangunan, parang, kapak, batu asah, lesung cetakan, wajan, gayung, ember, bumbung bambu, tungku, ciduk, pemalu, susuk wajan, karung, tangga dan penyaring. Sedangkan untuk menghitung beban biaya alat dan perlengkapan pada tahun yang bersangkutan yaitu dengan menghitung nilai penyusutan, terkecuali alat perlengkapan yang habis dipakai selama satu periode produksi maka biaya alat dihitung berdasarkan nilai dari pembelian alat perlengkapan tersebut.
Biaya penyusutan alat dan perlengkapan ini dihitung dengan menggunakan metode garis lurus. Berdasarkan metode garis lurus tersebut biaya penyusutan alat/perlengkapan dihitung dari nilai beli dikurangi nilai sisa dibagi umur ekonomis (tahun) dikali masa produksi.
Besarnya biaya alat dan perlengkapan dalam usaha pengolahan gula aren selama periode produksi (1 bulan) rata-rata Rp 82.805,47 per usaha per bulan. Untuk lebih jelasnya mengenai biaya alat dan perlengkapan dapat dilihat pada Lampiran 3 dan 6 serta pada Tabel 15 berikut.







Tabel 15. Biaya Penyusutan Alat Perlengkapan Usaha Pengolahan Gula Aren Selama Periode Produksi (1 bulan) di Desa Bekoso.


No
Jenis Alat Perlengkapan
Usia Teknis
(Tahun)
Biaya Rata-rata
(Rp)
Persentase
(%)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
Bangunan
Parang
Kapak
Batu Asah
Lesung Cetakan
Wajan
Gayung
Ember
Bumbung Bambu
Tungku
Ciduk
Pemalu
Susuk Wajan
Karung
Tangga
Penyaring
8
3
3
3
5
5
2
2
2
5
1,5
3
1,5
1
1
2
52.083,33
1.666,67
972,22
416,67
2.500,00
4.166,67
333,33
416,67
1.846,15
1.250,00
555,55
138,89
555,55
208,33
15.384,61
312,50
62,90
2,01
1,18
0,50
3,02
5,03
0,40
0,50
2,23
1,51
0,67
0,17
0,67
0,25
18,58
0,38
Jumlah
82.805,74
100
Sumber : Data Primer Setelah Diolah (2008)
Tabel 15 di atas memperlihatkan persentase yang terbesar dari penggunaan alat perlengkapan pada usaha pengolahan gula aren adalah biaya alat perlengkapan bangunan yaitu sebesar 62,90 % dan terendah adalah biaya alat perlengkapan pemalu, yaitu sebesar 0,17 % dari keseluruhan biaya alat.


5.2.2. Biaya Variabel
Pada usaha pengolahan gula aren di Desa Bekoso biaya variabel meliputi sarana produksi (terdiri dari bahan baku air nira dan bahan pendukung seperti buah kelapa, daun palm, kayu bakar dan tali rapia) dan tenaga kerja.
5.2.2.1. Biaya Bahan Baku Utama
Bahan baku merupakan bahan utama industri gula aren karena tanpa bahan baku tersebut tidak akan dapat diproduksi gula aren. Bahan baku tersebut berupa air nira yang diperoleh pengrajin dari hasil penyadapan pada pohon aren.
Besarnya biaya bahan baku utama pada usaha pengolahan gula aren rata-rata sebesar 1.562,31 liter per usaha per bulan atau sebesar Rp 1.171.730,77 per usaha per bulan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran 4.
5.2.2.2. Biaya Bahan Baku Pendukung
Dalam pembuatan gula aren selain biaya bahan baku utama juga diperlukan bahan baku pendukung misalnya seperti buah kelapa, daun palm, kayu bakar dan tali rapia.
  1. Buah Kelapa
Buah kelapa digunakan untuk mempercepat proses pengentalan air nira yang sedang direbus, buah kelapa yang digunakan adalah kelapa tua (kelapa parut). Adapun harga buah kelapa tua ukuran besar adalah sebesar Rp 5.000,00 per biji. Untuk kebutuhan buah kelapa tua dalam proses mempercepat pengentalan nira aren rata-rata diperlukan sebanyak 1,19 biji  per usaha per bulan atau rata-rata diperlukan biaya sebesar Rp 5.961,54  per usaha per bulan. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran 4.
  1. Daun Palm
Daun palm digunakan untuk membungkus gula aren yang sudah dicetak, daun palm ini diperoleh pengrajin dari hutan kemudian dijemur sampai kering dan ada juga sebagian pengrajin memperoleh daun palm dengan membeli ke pengrajin gula aren lainnya. Adapun harga daun palm kering adalah sebesar Rp 20.000,00 per 100 helai daun palm. Untuk kebutuhan daun palm dalam pembungkusan gula aren rata-rata diperlukan sebanyak 3.122,31 helai daun palm per usaha per bulan atau rata-rata diperlukan biaya sebesar Rp 624.461,54 per usaha per bulan. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran 4.
  1. Kayu Bakar
Dalam proses perebusan air nira digunakan kayu bakar untuk mendapatkan nyala api. Kayu bakar diperoleh pengrajin dengan cara mencari ke dalam hutan yang letaknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal pengrajin. Biaya pengangkutan kayu bakar dari hutan ke tempat tinggal pengrajin berkisar antara Rp 75.000,00 sampai dengan 125.000,00 per truk (5 m3).
Ada juga sebagian pengrajin gula aren mendapatkan kayu bakar dengan cara membeli langsung ke pedagang kayu bakar dengan harga Rp 50.000,00/m3. Adapun kebutuhan kayu bakar rata-rata sebanyak 3,85 m3 per usaha per bulan atau dengan rata-rata biaya sebesar Rp 192.307,69 per usaha per bulan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran 4.

  1. Tali Rapia
Tali rapia digunakan untuk mengikat gula aren yang sudah dibungkus. Adapun harga tali rapia adalah sebesar Rp 200,00 per meter. Untuk kebutuhan tali rapia dalam pengikatan gula aren rata-rata diperlukan sebanyak 226,62 meter per usaha per bulan atau rata-rata diperlukan biaya sebesar Rp 45.123,08 per usaha per bulan. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran 4.
5.2.2.3. Biaya Tenaga Kerja
Sumber tenaga kerja dalam penyelenggaraan usaha pengolahan gula aren di Desa Bekoso seluruhnya menggunakan tenaga kerja dalam keluarga (TKDK). Curahan tenaga kerja dalam keluarga ini meliputi kegiatan persiapan untuk pemukulan tandan buah (menggoal), pengambilan bahan baku (air nira), perebusan, pengadukan dan pencetakan serta pengemasan. Dalam menghitung tenaga kerja digunakan hari kerja orang (HKO), dimana dalam 1 hari kerja efektif dihitung 9 jam kerja.
Dengan demikian biaya rata-rata tenaga kerja pada usaha pengolahan gula aren selama periode produksi (1 bulan) di Desa Bekoso rata-rata sebesar Rp 596.215,38 per usaha per bulan dengan curahan tenaga kerja sebesar 39,75 HKO. Untuk lebih jelasnya mengenai besarnya biaya tenaga kerja dalam keluarga dapat dilihat pada Lampiran 5 dan Tabel 16 berikut.



Tabel 16. Rata-rata Biaya Tenaga Kerja Pada Usaha Pengolahan Gula Aren Selama Periode Produksi (1 bulan) Di Desa Bekoso.


No

Jenis Kegiatan TKDK
Biaya Rata-rata
(Rp)
Persentase
(%)
1
2
3
Pemukulan Tandan Buah
Pengambilan Air Nira
Proses Produksi
46.165,38
100.050,00
450.000,00
7,74
16,78
75,48
Jumlah
596.215,38
100
Sumber : Data Primer Setelah Diolah (2008)
Tabel 16 di atas memperlihatkan biaya yang terbesar dari penggunaan tenaga kerja dalam keluarga adalah biaya kegiatan proses produksi, yaitu sebesar 75,48 % dengan curahan tenaga kerja 30 HKO dan terendah biaya kegiatan pemukulan tandan buah yaitu sebesar 7,74 % dengan curahan tenaga kerja 3,08 HKO.
Dari uraian-uraian biaya tersebut diatas, maka rata-rata biaya variabel pada usaha pengolahan gula aren selama periode produksi (1 bulan) di Desa Bekoso sebesar Rp 2.635.800,00 per usaha per bulan. Untuk lebih jelasnya mengenai biaya variabel ini dapat dilihat pada Lampiran 7 dan Tabel 17 berikut ini.
Tabel 17. Rata-rata Biaya Variabel Pada Usaha Pengolahan Gula Aren Selama Periode Produksi (1 bulan) Di Desa Bekoso.


No

Uraian Biaya
Biaya Rata-rata
(Rp)
Persentase
(%)
1
2
Sarana Produksi
Tenaga Kerja
2.039.584,62
596.215,38
77,38
22,62
Jumlah
2.635.800,00
100
Sumber : Data Primer Setelah Diolah (2008)
Tabel 17  di atas memperlihatkan persentase yang terbesar dari komponen biaya variabel pada usaha pengolahan gula aren adalah biaya sarana produksi yaitu sebesar 77,38% dan sisanya 22,62% adalah biaya keperluan tenaga kerja.
5.3. Biaya Total
Biaya total adalah biaya yang dikeluarkan dalam usaha pengolahan gula aren, baik biaya tetap maupun biaya variabel. Besarnya biaya total yang dikeluarkan oleh pengrajin pada usaha pengolahan gula aren selama periode produksi (1 bulan) di Desa Bekoso adalah rata-rata Rp 2.718.605,74 per usaha per bulan. Untuk lebih jelasnya mengenai biaya total pada usaha pengolahan gula aren dapat dilihat pada Lampiran 8 dan Tabel 18 berikut ini.
Tabel 18. Rata-rata Biaya Total Pada Usaha Pengolahan  Gula Aren Selama Periode Produksi (1 bulan) Di Desa Bekoso.


No

Uraian Biaya
Biaya Rata-rata
(Rp)
Persentase
(%)
1
2
Biaya Tetap
Biaya Variabel
82.805,74
2.635.800.00
3,05
96,95
Jumlah
2.718.605,74
100
Sumber : Data Primer Setelah Diolah (2008)
Tabel 18  di atas menggambarkan biaya total dari usaha pengolahan gula aren selama periode produksi di Desa Bekoso didominasi oleh biaya variabel yaitu sebesar 96,95 % dan sisanya 3,05% adalah biaya tetap.
5.4. Penerimaan Usaha Pengolahan Gula Aren Di Desa Bekoso
Penerimaaan merupakan hasil kali antara jumlah produksi fisik dengan harga yang berlaku pada saat itu. Produksi gula aren yang diperoleh pengrajin selama periode produksi (1 bulan) rata-rata sebesar 1.144,46 bungkus per usaha per bulan, dimana harga yang berlaku pada saat penelitian Rp 3.500,00 per bungkus, maka penerimaan dari hasil pengolahan gula aren rata-rata sebesar Rp 4.005.615,38 per usaha per bulan (Lampiran 9).
Besar kecilnya penerimaan yang diperoleh dari suatu usaha dipengaruhi oleh besar kecilnya produksi dan harga yang berlaku. Untuk meningkatkan penerimaan dari usaha pengolahan gula aren tentunya pengrajin mengoptimalkan produksinya, yaitu dengan jalan menambah biaya produksi seperti menambah bahan baku utama (air nira). Sedangkan untuk harga gula aren di Desa Bekoso pada saat penelitian ini dilaksanakan berkisar antara Rp 2.500,00 sampai dengan harga Rp 3.500,00 tergantung besar kecilnya ukuran bungkus gula aren yang diproduksi oleh pengrajin. Harga gula aren akan naik menjelang pada hari besar Islam, seperti Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha.
5.5. Analisa Pendapatan Usaha Pengolahan Gula Aren Di Desa Bekoso
Analisa pendapatan adalah suatu analisa yang digunakan untuk mengetahui seberapa besar pendapatan yang diperoleh pengrajin gula aren dari usaha yang dijalankan, dengan melihat analisa tersebut pengrajin gula aren yang menjalankan usahanya akan dapat mengetahui seberapa besar pendapatan yang diperolehnya selama menjalankan usaha pengolahan gula aren.
Dari hasil pengolahan data pada usaha pengolahan gula aren selama periode produksi (1 bulan) di Desa Bekoso rata-rata total penerimaan yang diperoleh pengrajin gula aren adalah sebesar Rp 4.005.615,38 per usaha per bulan dan rata-rata total biaya yang dikeluarkan oleh pengrajin gula aren adalah sebesar Rp 2.718.605,74 per usaha per bulan sedangkan rata-rata pendapatan yang diperoleh pengrajin gula aren di Desa Bekoso adalah sebesar Rp 1.287.009,64 per usaha perbulan. Untuk lebih jelasnya mengenai perhitungan analisa pendapatan pengolahan gula aren di Desa Bekoso dapat dilihat pada Lampiran 10.
5.6. Analisa Kelayakan Usaha Pengolahan Gula Aren Di Desa Bekoso
Analisa kelayakan usaha yang digunakan untuk pengolahan gula aren di lokasi penelitian adalah analisa total biaya, total penerimaan dan return cost ratio.
5.6.1.      Total Biaya (Total Cost)
Total cost (TC) atau total biaya adalah merupakan hasil dari penjumlahan antara total fixed cost (TFC) dengan total variable cost (TVC). Analisa ini digunakan untuk mengetahui total biaya yang dikeluarkan oleh pengrajin gula aren  selama periode produksi (1 bulan) di Desa Bekoso.
Berdasarkan hasil analisis, nilai total cost yang diperoleh pengrajin gula aren dilokasi penelitian adalah rata-rata sebesar Rp 2.718.605,74 per usaha per bulan. Untuk lebih jelasnya tentang total biaya yang dikeluarkan pengrajin gula aren dapat dilihat pada Lampiran 11.
5.6.2.      Total Penerimaan (Total Return)
Total penerimaan (Total Return) adalah perkalian antara produksi gula aren yang diperoleh pengrajin dengan harga jual gula aren saat dilakukannya penelitian ini. Analisis digunakan untuk mengetahui perolehan total penerimaan pada usaha pengolahan gula aren selama periode produksi (1 bulan) di Desa Bekoso.
Berdasarkan hasil dari analisis, nilai total penerimaan pada usaha pengolahan gula aren adalah rata-rata sebesar Rp 4.005.615,38 per usaha per bulan. Untuk lebih jelasnya total penerimaan yang diperoleh pengrajin gula aren dapat dilihat pada Lampiran 12.
5.6.3.      Return Cost Ratio
R/C Ratio adalah analisa yang digunakan untuk mengetahui apakah usaha yang dijalankan tersebut layak atau tidak maka, dapat digunakan perhitungan dengan membandingkan total penerimaan dengan total biaya. Dengan ketentuan jika nilai R/C > 1 maka usaha yang dilakukan adalah layak, sebaliknya jika nilai R/C  < 1 maka usaha yang dijalankan tidak layak.
Dari hasil pengolahan data pada usaha pengolahan gula aren selama periode produksi (1 bulan) di Desa Bekoso menunjukkan bahwa nilai R/C Ratio yang diperoleh pengrajin gula aren rata-rata 1,5 berarti usaha tersebut secara ekonomi layak untuk diusahakan, karena setiap pengeluaran investasi Rp 1 maka hasil yang diperoleh adalah Rp 1,5. Untuk lebih jelasnya perhitungan R/C Ratio dapat dilihat pada Lampiran 13.
5.7. Anlisa Break Even Point Usaha Pengolahan Gula Aren Di Desa Bekoso
Analisa Berak Even Point (BEP) adalah suatu analisis ekonomi untuk mengetahui terjadinya titik impas atau kembalinya modal dari usaha. Dengan melihat analisa tersebut petani atau pengusaha yang menjalankan usahanya akan dapat menentukan seberapa besar modal yang dikeluarkan dan seberapa jauh keuntungan yang diperolehnya. Sehingga pada akhirnya pengrajin dapat lebih mengembangkan usaha di masa mendatang.
Dalam menentukan analisa break even point ini pada suatu usahatani dapat dilihat dari volume produksi dan jumlah penerimaan atau hasil penjualan yang diperoleh produsen.
Dari hasil pengolahan data pada usaha pengolahan gula aren selama periode produksi (1 bulan) di Desa Bekoso nilai break even point (BEP) dilihat dari volume produksi sebesar 70,66 bungkus per usaha per bulan dan kalau dilihat dari jumlah penerimaan atau hasil penjualan sebesar Rp 243.546,29 per usaha per bulan sedangkan kalau dilihat dari break even point harga adalah sebesar Rp 2.327,45/bungkus per usaha per bulan. Dengan nilai tersebut pada usaha pengolahan gula aren selama periode produksi (1 bulan) di Desa Bekoso mencapai titik impas atau kembalinya modal. Untuk lebih jelasnya mengenai nilai break even point dapat dilihat pada Lampiran 14, 15 dan 16 dan secara grafis, titik BEP dapat digambarkan sebagai berikut.








        (Rp)
Rp 4.005.615,38
 
                                                                                                   TR


 


Rp 2.718.605,74
 
                                                                                                    TC

Rp 2.635.800,00
 
                                                                                        VC
Text Box: BEP









  
Rp 82.805,74
 
                                                                             FC

Q (bungkus)
 
1.144,46
 
70,66
 
                                                                                         

Gambar 2. Kurva Break Even Point (BEP) Pada Usaha Pengolahan Gula Aren Selama Periode Produksi (1 bulan) Di Desa Bekoso.

Pada gambar di atas diberi gambaran usaha pengolahan gula aren yang dilaksanakan pengrajin di Desa Bekoso diperoleh nilai rata-rata break even point (BEP) dilihat dari volume produksi sebesar 70,66 bungkus per usaha per bulan atau dilihat dari hasil penjualan (penerimaan) sebesar Rp 243.546,29 per usaha per bulan, maka usaha pengolahan gula aren yang dilaksanakan pengrajin di daerah penelitian selama periode produksi (1 bulan) telah mampu melewati nilai break even point (BEP), sebab bila dilihat kembali dari rata-rata penerimaan yang diperoleh sebesar Rp 4.005.615,38 per usaha per bulan dan tingkat produksi rata-rata sebesar 1.144,46 bungkus per usaha per bulan. Dengan kata lain bahwa hasil penerimaan atau produksi yang diperoleh pengrajin gula aren selama periode produksi (1 bulan) di Desa Bekoso telah mampu menghasilkan keuntungan.
5.8. Analisa Deskriftif Kualitatif
5.8.1.   Aspek Pengadaan Bahan Baku
a.      Sumber Bahan Baku
Bahan baku pengolahan gula aren yang ada di Desa Bekoso adalah berasal dari penyadapan nira aren yang dimiliki sendiri oleh pengrajin. Dimana pohon aren tersebut tumbuh secara liar (alami) dilahan yang dimiliki oleh pengrajin tanpa adanya sistem pembudidayaan.
b.      Kebutuhan Bahan Baku
Kebutuhan air nira tiap responden berbeda-beda yaitu tergantung dari banyaknya pohon yang dimiliki dan tergantung dari umur tanaman (pohon) aren tersebut, semakin tua umur tanaman (pohon) aren maka jumlah air nira yang didapatkan dari hasil penyadapan semakin sedikit.
Air nira yang disadap oleh pengrajin gula aren di Desa Bekoso berkisar rata-rata 1.562,31 liter per usaha per bulan atau rata-rata sebesar 52,08 liter per usaha per hari dengan cara dua kali penyadapan setiap harinya yaitu pagi dan sore hari. Hasil penyadapan nira aren yang dilakukan di pagi hari menghasilkan lebih banyak air nira dibandingkan dengan penyadapan yang dilakukan di sore hari.
c.       Pengaruh Bahan Baku Terhadap Musim
Kualitas nira aren yang disadap pada musim kemarau memiliki rasa lebih manis jika dibandingkan dengan kualitas nira aren yang disadap pada musim penghujan yaitu lebih hambar, akan tetapi hasil perolehan panyadapan pada musim kemarau lebih sedikit menghasilkan air nira jika dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dari penyadapan dimusim penghujan.
d.      Persiapan dan Pemukulan Tandan Buah
Sebagai kegiatan awal kegiatan usaha pengolahan gula aren di Desa Bekoso adalah pemungutan air nira. Pengrajin biasanya memilih umur pohon aren yang akan disadap. Sedangkan umur pohon aren yang disadap tersebut dengan kisaran umur tanaman antara 10-18 tahun dan pohon yang akan diambil niranya adalah pohon yang sudah berbuah. Adapun kebanyakan pengrajin dalam menyadap memanfaatkan bunga jantannya yang sudah cukup umur yang ditandai akan merekahnya bunga, maka dimulailah pekerjaan penyiapan seperti pemasangan tangga atau sigai yang terbuat dari bambu.
Dari hasil pengamatan bahwa rata-rata pohon yang disadap pengrajin guna pengolahan gula aren sebanyak 8 pohon. Pengambilan air nira menggunakan alat tangga. Kemudian aktifitas selanjutnya setelah persiapan tangga adalah pemukulan pangkal bunga (tandan buah). Pangkal bunga tersebut dipukul–pukul dengan alat pemukul selama waktu yang ditentukan kurang lebih 11 hari (1 minggu 4 hari ) dan dilakukan 2 kali sehari pagi dan sore.
e.       Pengambilan Air Nira ( Bahan Baku )
Kegiatan berikutnya setelah dilakukan pemukulan tandan buah (menggoal) adalah pengambilan air nira. Pada bagian pangkal bunga dipotong, maka keluarlah air nira tersebut dari bekas potongan tadi, namun biasanya para pengrajin gula aren di Desa Bekoso tidak langsung menampung air niranya, tetapi dibiarkan dulu selama 1-3 hari. Setelah itu baru mulai menampung air nira dengan menggunakan bumbung bambu. Sebelum melakukan penyadapan dilakukan pengasapan pada bumbung bambu tersebut. Perlakuan ini gunanya untuk menekan proses fermentasi nira selama dalam bumbung bambu. Hal ini dilakukan setiap kali pengambilan nira. Dimana pemasangan dan pengambilan bumbung bambu dilakukan 2 (dua) kali dalam sehari yaitu pada pagi hari sekitar jam 07.00 dan sore hari sekitar jam 17.00.
Setiap penggantian pangkal bunga tadi diiris tipis dengan menggunakan parang yang tajam. Hal ini dilakukan untuk menghindari keasaman air nira. Sebab bila air niranya asam maka kualitas gula aren kurang baik, semakin manis air niranya semakin baik kualitas gulanya.
Lama penyadapan pohon nira tergantung pada kandungan nira di dalam pohon. Bilamana dilakukan penyadapan berat air nira yang keluar cukup deras bahkan bisa melebihi volume tukil yang dipasang, maka dalam waktu 2 bulan menghabiskan satu tandan langan. Pengrajin gula aren di Desa Bekoso umumnya melakukan penyadapan yang dapat dikatakan tergolong pada jenis penyadapan berat, karena lama penyadapan satu tandan lengan sekitar kurang lebih 2,5 bulan. Dalam kegiatan pengambilan air nira selama satu periode produksi (1 bulan) dengan waktu berkisar antara 0,5-2 jam. Hasil pengolahan data pada usaha pengolahan gula aren keperluan air nira selama 1 (satu) bulan rata–rata 1.562,31 liter per usaha (Lampiran 4).
f.       Alat Yang Digunakan
Alat perlengkapan yang umumnya digunakan oleh pengrajin gula aren di Desa Bekoso diantaranya :
1.      Bangunan
Bangunan ini digunakan untuk melindungi pengrajin dari terik sinar matahari dan hujan dalam proses pengolahan gula aren (proses perebusan air nira). Ukuran bangunan yang dimiliki pengrajin yaitu berkisar antara 2 m X 3 m dan 3 m X 3 m yang lantainya terbuat dari bambu, atapnya terbuat dari daun dan tiangnya terbuat dari tanaman berbatang keras yang diperoleh dari hutan.
2.      Parang
Parang terbuat dari baja dan diusahakan agar selalu dalam keadaan tajam yang berguna untuk menyadap tangkai bunga aren dengan cara memotong bekas potongan dengan tujuan agar nira yang baru akan keluar.
3.      Kapak
Kapak juga terbuat dari baja dan diusahakan agar selalu dalam keadaan tajam gunanya hampir sama dengan parang, tetapi kapak ini digunakan untuk memotong benda-benda yang lebih keras misalnya seperti untuk memotong dahan pohon aren.
4.      Batu Asah
Batu asah digunakan untuk mengasah parang atau kapak agar parang atau kapak tersebut tetap dalam keadaan tajam.
5.      Lesung Cetakan
Lesung cetakan ini terbuat dari kayu dengan panjang antara 1 m sampai dengan 1,5 m dan berbentuk gelas dengan bagian dalam berbentuk kerucut sekitar 22 lubang.

6.      Wajan
Wajan terbuat dari baja agar gula aren tidak melekat pada wajan dan panasnya secara perlahan-lahan dan tahan lama, berguna untuk menampung air nira yang siap dipanaskan diatas tungku.
7.      Gayung dan Ember
Alat ini digunkan sebagai penampung air untuk membersihkan (mencuci) barang-barang yang sudah dipakai.
8.      Bumbung Bambu
Bumbung ini terbuat dari bumbung dengan panjang sekitar 1,5 m yang berguna untuk menampung air nira dari tangkai yang sudah disadap.
9.      Tungku
Tungku digunakan untuk memanaskan air nira yang sudah ada diatas wajan sampai batas waktu yang telah ditentukan.
10.  Ciduk
Alat ini digunakan untuk menciduk gula aren dan untuk mengetes kekentalan gula aren.
11.  Tali Rapia
Tali rapia digunakan untuk mengikat bungkusan gula aren yang sudah siap untuk dipasarkan.
12.  Pemalu
Alat ini terbuat dari kayu yang digunakan untuk memukul-mukul pangkal tangkai aren yang sebelum dideres sehingga mempermudah dalam proses penderesan.
13.  Susuk Wajan
Alat ini terbuat dari kayu dengan panjang sekitar 50 cm gunanya untuk mengaduk air nira yang sudah kental dengan cara mengaduk bagian pinggirnya untuk mengetahui apakah rebusan air nira tersebut benar-benar sudah masak atau belum.
14.  Karung
Karung digunakan untuk menyimpan gula aren yang sudah siap dipasarkan agar gula tersebut tidak mudah pecah dan juga agar terlihat lebih rapi.
15.  Tangga
Alat ini terbuat dari bambu yang disandarkan ke pohon aren gunanya untuk mempermudah dalam pemanjatan pohon aren.
16.  Penyaring
Alat ini digunakan untuk menyaring kotoran yang terdapat dalam air nira, misalnya semut dan lebah pada saat menuangkan air nira dari bumbung ke wajan.
g.      Ketersediaan Tenaga Kerja
Sumber tenaga kerja dalam penyelenggaraan usaha pengolahan gula aren oleh masyarakat pengrajin di Desa Bekoso seluruhnya menggunakan tenaga kerja dalam keluarga (TKDK). Curahan tenaga kerja dalam keluarga ini meliputi kegiatan persiapan untuk pemukulan tandan buah (menggoal), pengambilan bahan baku (air nira), perebusan, pengadukan dan pencetakan serta pemasaran. Dalam menghitung tenaga kerja digunakan hari kerja orang (HKO), dimana dalam 1 hari kerja efektif dihitung 9 jam kerja.
Besarnya biaya tenaga kerja dihitung berdasarkan upah per hari kerja orang (HKO) dikali dengan masing-masing pekerjaan. Adapun upah tenaga kerja adalah Rp 15.000,00 per hari per orang. Dengan demikian biaya rata-rata untuk tenaga kerja pada usaha pengolahan gula aren selama 1 (satu) bulan periode produksi di Desa Bekoso adalah sebesar Rp 596.215,38 per usaha dengan curahan tenaga kerja sebesar 39,75 HKO.
h.      Kapasitas Produksi
Kapasitas produksi pengolahan gula aren yang diselenggarakan oleh masyarakat pengrajin di Desa Bekoso adalah berasal dari nira aren itu sendiri. Semakin banyak nira aren yang diperoleh dari hasil penyadapan maka semakin banyak hasil yang produksi gula aren tetapi semakin sedikit nira aren yang diperoleh dari hasil penyadapan  maka semakin sedikit hasil produksi gula aren.
Rata-rata umur tanaman aren yang ada di lokasi penelitian adalah berumur 14 tahun dimana pada umur tersebut tanaman (pohon) aren masih bisa berproduksi secara maksimal.
5.8.2.      Aspek Pengolahan/Produksi
Selanjutnya kegiatan berikutnya setelah dilakukan pengambilan air nira adalah air nira dituangkan ke sebuah wajan untuk direbus pada tungku pembakaran. Proses perebusan ini memakan waktu antara 5-6 jam. Air nira tadi direbus sampai pada kekentalan yang ditentukan mulai diaduk dengan alat pengaduk dan diberikan buah kelapa. Keperluan buah kelapa selama 1(satu) bulan proses pengolahan gula aren rata–rata 1,19 biji per usaha dan kayu bakar rata–rata sebanyak 3,8 per m3 (Lampiran 4).
Setelah adukannya sudah merata maka adukan tadi dituangkan ke dalam cetakan. Aktivitas selanjutnya setelah proses perebusan dan pengadukan adalah kegiatan pencetakan. Pencetakan gula aren dilakukan setelah adukan sudah rata dan kental, maka dituangkan ke dalam cetakan. Tunggu sampai dingin kemudian dikeluarkan dari cetakan atau dilepas dan dibungkus dengan daun palm, dimana rata–rata keperluan daun palm selama 1 (satu) bulan sebesar 3.122,31 helai per usaha dan diikat dengan menggunakan tali rapia, kebutuhan tali rapia dalam pengikatan gula aren rata-rata diperlukan sebanyak 226,62 meter per usaha per bulan atau rata-rata diperlukan biaya sebesar Rp 45.123,08 per usaha per bulan (Lampiran 4). Dengan demikian gula aren siap untuk dipasarkan kepada konsumen.











Untuk lebih jelasnya proses produksi gula aren di Desa Bekoso dapat dilihat pada bagan dibawah ini.

Nira
 
Pengambilan dari pohon aren                                                                         di saring
0,5 s/d 2 jam
Direbus
 
                                                                                                          Dicampur dengan kelapa parut
Kayu Bakar + Panas ± 200˚C
 
                                                                                    untuk mempercepat proses               pengentalan nira aren









.                                                 5 - 6 jam
Diangkat Dari Api
 





                                                   10 menit      
                                                        
Dicetak
 
Air                                                                                                                    Tataan
                                                           
                                                  20 menit
Dibungkus
 
                                                                                                                                    Daun palm + Tali rapia



Siap Dipasarkan
 
 

Penyelesaian Hasil Akhir                                                                                  

Gambar 3. Skema Proses Pembuatan Gula Aren Di Desa Bekoso Kecamatan Pasir Belengkong Kabupaten Paser.

5.8.3.      Aspek Sosial
Usaha pengolahan gula aren yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Bekoso adalah usaha pokok (utama), keberadaannya pun sangat bermanfaat khususnya bagi para pengrajin gula aren dimana usaha tersebut dapat menambah peningkatan pendapatan keluarga.
Secara ekonomi usaha tersebut sangat layak dikembangkan karena melihat dari nilai R/C ratio yang diperoleh yaitu sebesar 1,5. Sedangkan secara sosial usaha pengolahan gula aren juga layak untuk diusahakan karena melihat dari rata-rata pendapatan yang diterima oleh pengrajin gula aren adalah sebesar Rp 1.287.008,26, dimana jumlah pendapatan yang diterima pengrajin lebih besar bila dibandingkan dengan Upah Minimum Regional (UMR) sebesar Rp 900.000,00 per bulan.
5.8.4.      Aspek Pemasaran
Umumnya pengrajin gula aren di Desa Bekoso ini menjual produknya kepada pedagang pengumpul yang datang sendiri ke lokasi pengolahan gula aren, tetapi ada juga sebagian pengrajin gula aren yang menjual hasil olahannya ke Pasar Pasir Belengkong dan Pasar Senaken Tanah Grogot.
Tingkat harga jual gula aren tergantung dari mutu gula tersebut serta banyaknya permintaan dari para pedagang pengumpul dan konsumen, biasanya harga gula aren akan tinggi menjelang bulan puasa dan sesudah musim panen sebaliknya gula akan turun harganya di saat musim buah-buahan.


Untuk lebih jelasnya tahapan-tahapan kegiatan tersebut dapat dilihat pada gambar bagan berikut ini.





Right Arrow: Persiapan Dan Pengadaan
Bahan Baku



 






Rounded Rectangle: Pemasaran
Gula Aren


Gambar 4. Bagan Persiapan Dan Pengadaan Bahan Baku Sampai Dengan Pemasaran Gula Aren Di Desa Bekoso Kecamatan Pasir Belengkong Kabupaten Paser.

Proses pemasaran merupakan kegiatan menyalurkan barang dan jasa dari tangan produsen (penjual) ke tangan konsumen (pembeli). Dalam rangka mendukung distribusi barang - barang tersebut dibutuhkan saluran distribusi yang tepat untuk menjalankan kegiatan tersebut.
Pemasaran gula aren yang dilakukan di Desa Bekoso ada dua cara yaitu secara langsung dan secara tidak langsung. Pemasaran secara langsung adalah pengrajin menjual langsung ke tangan konsumen tanpa adanya pedagang perantara, sedangkan pemasaran tidak langsung adalah pengrajin menjual kepada pedagang perantara yang datang kemudian akan dijual ke pasar. Hal inilah yang disebut dengan saluran distribusi.
Saluran distribusi yang digunakan pengrajin gula aren di Desa Bekoso dapat dilihat pada gambar di bawah ini:
















Pedagang Perantara
(Pengecer)
 


Konsumen
 

Produsen (pengrajin)
 






Gambar 5. Skema Saluran Distribusi Pemasaran Gula Aren di Desa Bekoso Kecamatan Pasir Belengkong Kabupaten Paser.

Berdasarkan skema diatas dapat dilihat bahwa ada dua saluran distribusi yang akan digunakan dalam memasarkan gula aren di Desa Bekoso. Saluran distribusi tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Produsen (pengrajin)                                Konsumen
2.      Produsen (pengrajin)                            Pedagang Pengecer                konsumen
Saluran distribusi yang pertama yaitu dari produsen (pengrajin) ke konsumen biasa disebut dengan pemasaran langsung. Pemasaran langsung adalah gula aren yang dijual oleh pengrajin kepada konsumen/pembeli. Melalui sistem pemasaran langsung ada beberapa keuntungan dan kerugian yang dapat diperoleh, yaitu:
  1. Keuntungan
1.      Pengrajin dapat menentukan harga jual gula aren sendiri.
2.      Pengrajin akan mengetahui keadaan pasar.
3.      Pengrajin dapat berhubungan langsung dengan konsumen.
  1. Kerugian
1.      Akan terjadi persaingan yang tidak sehat.
2.      Pengrajin akan tersisa waktunya untuk memasarkan sehingga akan mengurangi waktu produksi.
Sedangkan saluran distribusi yang kedua yaitu pengrajin menjual gula aren tidak langsung ke konsumen, melainkan melalui pedagang perantara yaitu pedagang pengecer. Pedagang pengecer datang langsung ke tempat pengrajin untuk membeli gula aren dan selanjutnya di jual ke pasar. Hal ini sering disebut dengan pemasaran tidak langsung, seperti halnya dengan pemasaran langsung, pemasaran tidak langsung juga mempunyai keuntungan dan kerugian.
a.       Keuntungan
1.      Pengrajin akan cepat memasarkan gula aren.
2.      Pengrajin tidak akan tersisa waktunya untuk memasarkan sehingga mempunyai waktu yang lebih banyak untuk memproduksi.
3.      Ada standar harga gula aren yang telah ditetapkan.
b.      Kerugian
2.      Pengrajin tidak bisa menentukan harga gula aren sendiri.
3.      Pengrajin kurang mengetahui keadaan pasar.
4.      Pengrajin tidak dapat berhubungan langsung dengan konsumen akhir.




BAB VI
 KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan
Berdasarkan uraian hasil penelitian terhadap pengrajin gula aren di Desa Bekoso Kecamatan Pasir Belengkong Kabupaten Paser, maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1.      Secara teknis pengolahan gula aren di Desa Bekoso masih dilaksanakan secara sederhana, terlihat alat perlengkapan yang digunakan masih manual. Hal ini tidak terlepas dari minimnya modal yang dimiliki pengrajin gula aren.
2.      Melihat dari hasil perhitungan R/C ratio pada usaha pengolahan gula aren selama periode produksi (1 bulan) di Desa Bekoso menunjukkan bahwa nilai R/C Ratio yang diperoleh pengrajin rata-rata Rp 1,5 berarti usaha tersebut secara ekonomi layak untuk diusahakan. Karena sesuai dalam perhitungan R/C Ratio yaitu jika nilai R/C ratio lebih dari 1 maka usaha tersebut layak untuk diusahakan.
3.      Rata-rata produksi gula aren di Desa Bekoso 1.144,46 bungkus per usaha per bulan dengan harga Rp 3.500,00 maka rata-rata penerimaan sebasar Rp 4.005.615,00 per usaha per bulan dan rata-rata biaya total sebesar Rp 2.718.607,12 per usaha per bulan yang terdiri dari rata-rata biaya tetap sebesar Rp 127.930,20 per usaha per bulan dan rata-rata biaya variabel sebesar Rp 2.590.676,83 per usaha per bulan.
4.      Nilai BEP pengolahan gula aren di Desa Bekoso dilihat dari volume produksi rata-rata sebesar 105,55 bungkus per usaha per bulan dan hasil penjualan rata-rata sebesar Rp 365.514,86 per usaha per bulan. Dengan demikian usaha pengolahan gula aren secara ekonomis menguntungkan karena  penerimaan dan produksi yang diperoleh pengrajin gula aren selama periode produksi (1 bulan) lebih besar dari nilai BEP.
6.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang diperoleh, maka disarankan kepada para pengrajin gula aren dan segenap pihak yang terkait dengannya untuk dapat melakukan hal-hal sebagai berikut :
1.      Perlu adanya perhatian pemerintah melalui instansi terkait untuk memberikan penguatan modal usaha bagi industri rumah tangga agar dapat meningkatkan pendapatan.
2.      Sebaiknya pemerintah khususnya Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Dinas Perindakop) selalu memberikan dorongan atau motivasi kepada masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan melalui industri kecil. Dalam hal ini usaha pengolahan gula aren dapat dijadikan sebagai industri kecil yang berkembang.
3.      Mengingat usaha pengolahan gula aren di Desa Bekoso relatif sudah lama, maka sebaiknya guna mengantisipasi kekurangan bahan baku gula aren agar produksi gula aren dapat dijalankan secara terus menerus, sebaiknya pengrajin gula aren membudiadayakan atau meremajakan tanaman tersebut, karena selama ini keberadaan tanaman aren tersebut tumbuh secara alami tanpa adanya pemeliharaan secara intensif. Untuk itu perlu adanya kerjasama antara dinas terkait setempat (Dinas Perkebunan) dengan pengrajin gula aren untuk mengembangkan tanaman aren.















DAFTAR PUSTAKA

Anonim., 2008. Pedoman Penulisan Skripsi Program Studi Agribisnis. Penerbit STIPER Muhammadiyah Tanah Grogot Kabupaten Paser, Tanah Grogot.
Firdaus, Muhammad., 2008. Manajemen Agribisnis. Penerbit Bumi Aksara, Jakarta.
Handoko, T Hani., 1999. Dasar-Dasar Manajemen Produksi Dan Operasi Edisi 1 Cetakan Keduabelas. Penerbit BPFE, Jogyakarta.
Hernanto, Fadholi., 1995. Ilmu Usahatani. Penerbit Penebar Swadaya. Anggota IKAPI Seri Pertanian, Jakarta.
Kartono, Kartini., 1996. Pengantar Metodologi Riset Sosial Cetakan Ke VII. Penerbit CV. Mandar Maju, Bandung.
Mubyarto., 1989. Pengantar Ekonomi Pertanian. Penerbit LP3ES, Jakarta.
Mulyadi., 1993. Akuntansi Biaya Edisi 5. Penerbit Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen. UGM, Yogyakarta.
Rangkuti, Freddy., 2006. Analisis Swot Tknik Membedah Kasus Bisnis. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Rosyidi, Suherman., 2001. Pengantar Teori Ekonomi. Penerbit PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Safari, Achmad., 1995. Teknik Membuat Gula Aren. Penerbit Karya Anda, Surabaya.
Sigit, Soehardi., 2001. Pengantar Metodologi Penelitian Sosial – Bisnis – Manajemen cetakan Kedua. Penerbit BPFE UST, Yogyakarta.
Soegiri. J, Nawangsari., 2006. Tanaman Berkhasiat Indonesia Volume 1. Penerbit IPB Press, Bogor.
Soekartawi, 1995. Analisa Usahatani. Penerbit Rajawali Press, Jakarta.
Soekartawi, dkk., 1986. Ilmu Usahatani Dan Penelitian Untuk Pengembangan Petani Kecil. Penerbit UI – Press, Jakarta.
Sukanto, Reksohadiprodjo dan Indiro Gitusudarmo., 1992. Manajemen Produksi Edisi 4. Penerbit BPFE, Yogyakarta.
Sunanto, Hatta., 1993. Aren  Budidaya dan Multigunanya. Penerbit Kanisius, Jogyakarta.

Sugiyono, 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D Cetakan Keempat. Penerbit Alfabeta, Bandung.
Suratiyah, Ken., 2006. Ilmu Usahatani. Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta.
Suryabrata, Sumadi., 2000. Metodologi Penelitian Cetakan Keduabelas. Penerbit PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Swasta,Basu dan Irawan., 2005. Manajemen Pemasaran Modern Cetakan Ke 12. Penerbit Liberty, Yogyakarta.
Umar, Husein., 2007. Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Penerbit PT. Raja Grofindo Persada, Jakarta.
Wirartha, I Made., 2006. Metode Penelitian Sosial Ekonomi. Penerbit Andi, Yogyakarta.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar